Makanan Itu Hak, Bukan Sekadar Privilege

  • 29 Des 2025 06:10 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi : Sering kali kita melihat makanan cuma sebagai urusan perut kenyang, tanpa sadar ada hak dasar manusia di balik sepiring nasi. Faktanya, menurut FAO, sekitar 828 juta orang di dunia masih hidup dalam kondisi kelaparan, termasuk anak-anak. Angka ini mengingatkan kita bahwa akses pangan bukan soal keberuntungan, tapi hak yang seharusnya dimiliki semua orang.

Sebagai anak muda, kita sebenarnya punya ruang besar untuk ikut ambil bagian. Mulai dari ikut kampanye edukasi pangan, jadi relawan food bank, sampai bikin konten kreatif di media sosial. Cara-cara sederhana ini terbukti ampuh meningkatkan kesadaran, terutama di kalangan generasi muda yang hidup di dunia digital.

Di Indonesia sendiri, langkah menuju akses pangan yang lebih adil sudah mulai terlihat. Food Bank Indonesia dan berbagai komunitas lokal aktif menyalurkan makanan layak konsumsi ke masyarakat rentan. Peran anak muda bisa membuat gerakan ini menjangkau lebih banyak orang dan memberi dampak yang lebih luas.

Saat kita memahami pangan sebagai hak, kepedulian terhadap ketahanan pangan pun ikut tumbuh. Bayangkan, sepertiga makanan dunia terbuang sia-sia, sementara banyak orang masih kesulitan makan. Kalau kesadaran soal distribusi adil dan pengurangan limbah pangan meningkat, sistem pangan berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana.

Akhirnya, sudah saatnya kita mengubah cara pandang tentang makanan. Bukan cuma soal apa yang enak hari ini, tapi juga tentang siapa yang masih kelaparan besok. Lewat aksi kecil yang konsisten, anak muda bisa jadi agen perubahan, karena peduli pangan berarti peduli masa depan. (AMP/RRIBKT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....