Dampak Kesetaraan Gender yang Dianggap Merugikan Laki-Laki Modern
- 15 Des 2025 13:15 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Kesetaraan gender sering dipahami sebagai upaya menciptakan keadilan bagi semua pihak, namun dalam praktik tertentu muncul pandangan bahwa kebijakan atau wacana yang berkembang justru dapat menimbulkan kerugian psikologis dan sosial bagi sebagian laki-laki.
Kondisi ini biasanya muncul ketika prinsip kesetaraan diterapkan secara kaku tanpa mempertimbangkan perbedaan peran, kebutuhan, dan tantangan unik yang dihadapi oleh laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam dunia kerja, kebijakan afirmatif yang bertujuan meningkatkan representasi perempuan kadang dipersepsikan mengurangi peluang laki-laki yang memiliki kompetensi setara atau bahkan lebih tinggi.
Persepsi ini dapat memicu rasa tidak adil dan menurunkan motivasi kerja, terutama ketika proses seleksi dianggap lebih menekankan identitas gender daripada kemampuan profesional.
Pada ranah hukum keluarga, laki-laki sering merasa dirugikan dalam kasus perceraian yang berkaitan dengan hak asuh anak dan pembagian harta bersama. Banyak pria beranggapan bahwa sistem hukum masih cenderung memihak perempuan sebagai pengasuh utama, sehingga peran ayah kurang mendapatkan pengakuan yang seimbang.
Tekanan sosial terhadap laki-laki juga meningkat ketika narasi kesetaraan gender disalahartikan sebagai penghapusan identitas maskulinitas secara total. Akibatnya, sebagian laki-laki merasa kehilangan ruang untuk mengekspresikan diri secara alami tanpa takut dicap negatif atau dianggap tidak mendukung kesetaraan.
Dalam dunia pendidikan, anak laki-laki terkadang kurang mendapatkan perhatian khusus terkait gaya belajar dan kebutuhan emosional mereka. Fokus yang lebih besar pada pemberdayaan perempuan, meskipun penting, bisa membuat isu perkembangan dan kesehatan mental anak laki-laki menjadi kurang terlihat.
Di bidang kesehatan mental, laki-laki sering menghadapi stigma ganda ketika mengalami tekanan akibat tuntutan sosial yang bertentangan. Di satu sisi mereka diharapkan lebih terbuka secara emosional, namun di sisi lain masih dibebani ekspektasi sebagai sosok kuat dan tidak boleh terlihat lemah.
Kesetaraan gender dalam media juga memengaruhi citra laki-laki melalui penggambaran karakter yang ekstrem dan tidak seimbang. Representasi laki-laki yang selalu salah atau tidak kompeten dapat membentuk opini publik yang merugikan dan mengikis rasa percaya diri generasi muda.
Dalam lingkungan keluarga, perubahan peran gender yang cepat kadang menimbulkan kebingungan dan konflik internal bagi laki-laki. Ketika tidak ada komunikasi yang sehat, laki-laki bisa merasa perannya diperkecil atau tidak lagi dihargai dalam struktur keluarga modern.
Aspek ekonomi juga menjadi perhatian ketika tanggung jawab finansial masih dibebankan pada laki-laki, sementara peran tersebut tidak lagi diakui sebagai kontribusi utama. Ketidakseimbangan antara tuntutan dan penghargaan ini dapat memicu stres berkepanjangan dan rasa tidak aman.
Pada akhirnya, kesetaraan gender seharusnya dipahami sebagai upaya menciptakan keadilan bagi semua gender tanpa menimbulkan pihak yang merasa dirugikan. Pendekatan yang inklusif dan dialog terbuka sangat diperlukan agar laki-laki dan perempuan dapat berkembang bersama secara seimbang dan saling menghargai. (MU/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....