Batik dan Tenun, dari Tradisi ke Fashion Global

  • 20 Okt 2025 13:32 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi: Batik dan tenun bukan hanya sekadar lembar kain, tapi juga merupakan simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Indonesia. Setiap motifnya memiliki cerita, mulai dari doa, falsafah kehidupan, hingga penanda status sosial di masa lalu.

Pemerintah bahkan menetapkan setiap 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, keputusan ini menegaskan bahwa warisan budaya ini penting untuk terus dijaga (UNESCO, 2009).

Perjalanan batik dan tenun ke panggung global tidak terjadi begitu saja. Salah satu momentum penting adalah ketika UNESCO mengakui batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009.

Sejak saat itu, popularitas batik semakin meningkat, bahkan sering dipakai dalam forum internasional, seperti saat para pemimpin dunia menghadiri KTT APEC dengan mengenakan batik.

Sementara itu, kain tenun dari Nusa Tenggara Timur, Sumatra, dan Kalimantan juga mulai dilirik oleh desainer dunia karena motifnya yang unik dan proses pembuatannya yang rumit (Tempo, 2023).

Hal ini tidak terlepas dari inovasi dan kreativitas para desainer muda Indonesia yang memadukan motif tradisional dengan sentuhan modern, sehingga lahir busana batik yang multifungsi, kasual dan streetwear yang digemari berbagai kalangan.

Melalui cara ini, batik dan tenun tidak hanya tampil elegan di runway, namun juga bisa dikenakan santai dalam aktivitas sehari-hari (Jakarta Fashion Week, 2022).

Selain memperluas pasar, tren ini juga tentunya membawa dampak positif terhadap ekonomi lokal. Banyak perajin batik tulis dan penenun tradisional yang mendapatkan akses pasar lebih luas berkat kolaborasi dengan brand fashion maupun dukungan dari e-commerce.

Fenomena ini membuktikan bahwa batik dan tenun tidak hanya bernilai budaya, tapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Dengan terus berinovasi tanpa kehilangan akar tradisi, seni wastra Indonesia siap semakin mendunia.

Bak pepatah Jawa, “ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining bangsa dumunung ana ing budaya”, harga diri bangsa terletak pada budayanya. (AMP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....