Koto Gadang Jadi Pusat Studi Budaya Lokakarya Internasional

  • 05 Okt 2025 14:55 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Agam: Sejumlah pegiat warisan budaya dari dalam dan luar negeri berkumpul di Koto Gadang dalam sebuah lokakarya internasional bertajuk Rural Cultural Landscape of Koto Gadang yang berlangsung pada 18–22 Agustus 2025. Kegiatan ini berfokus pada pendokumentasian warisan budaya dan lanskap desa bersejarah tersebut.

Lokakarya ini merupakan hasil kolaborasi berbagai institusi, baik lokal maupun internasional. Di antaranya adalah Kage Sumbar, Pan-Sumatra Network for Heritage Conservation (Pansumnet), Sumatera Heritage Trust, ICOMOS Indonesia, Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) Indonesia, Pasar Papringan, Interpretasi Indonesia, Universitas Bung Hatta, IPB University, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta, Universitas Sumatera Utara (USU), Community Tourism Development Association of Tainan City Taiwan, Heritage Hands-on Belanda, serta RJdK Architectuur Belanda.

Hasti Tarekat, perwakilan dari Heritage Hands-on Belanda sekaligus inisiator program, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama dalam melestarikan sekaligus mengembangkan potensi desa Koto Gadang.

“Lokakarya ini memiliki empat tujuan utama: mendokumentasikan budaya dan lanskap Koto Gadang, meningkatkan kesadaran masyarakat lokal, memberdayakan pemuda, dan mendorong revitalisasi desa,” ujarnya di Koto Gadang, Senin (18/08/2025).

Peserta kegiatan berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti arsitektur, arsitektur lanskap, pariwisata, ekonomi, hingga komunikasi. Mereka menggunakan metode Historic Urban Landscape (HUL) Rapid Scan dan terbagi ke dalam tiga kelompok utama: warisan budaya benda (tangible), warisan budaya takbenda (intangible) dan pariwisata, serta lanskap.

Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan menghasilkan laporan terintegrasi yang berisi rekomendasi strategis dalam pengembangan budaya dan lanskap Koto Gadang. Laporan tersebut akan diserahkan kepada otoritas lokal dan masyarakat sebagai acuan pengembangan desa ke depan.

Terletak di kaki Gunung Singgalang dan berdekatan dengan Ngarai Sianok, Koto Gadang dikenal sebagai desa penghasil kerajinan perak dan sulaman khas, serta rumah bagi tokoh nasional seperti Agus Salim dan Rohana Kudus. Desa ini juga menyimpan sejumlah rumah bergaya Indische peninggalan kolonial Belanda, namun sebagian besar kekayaan budayanya belum terdokumentasi secara sistematis.

Jurian Andika, pendiri Kage Sumbar yang menjadi tuan rumah kegiatan, menegaskan pentingnya panduan pengembangan berbasis pelestarian.

“Harapannya, Koto Gadang bisa dikembangkan secara terkendali dengan tetap mempertahankan identitasnya sebagai desa pusaka. Modernisasi bukan berarti pembangunan fisik semata, tapi juga perubahan cara berpikir. Rekomendasi dari lokakarya ini sangat penting sebagai arah kebijakan ke depan,” tukasnya. (DR/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....