Peran Kweekschool SMAN 2 Bukittinggi dalam Lahirnya Bahasa Indonesia Modern

  • 25 Apr 2026 20:33 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Bangunan bersejarah yang kini dikenal sebagai SMAN 2 Bukittinggi menyimpan jejak penting dalam lahirnya bahasa Indonesia modern.

Dahulu, tempat ini merupakan Kweekschool Fort de Kock, sekolah guru Bumiputera pada masa kolonial Belanda yang menjadi pusat pengembangan bahasa Melayu terstandar.

Peran strategis Kweekschool kembali disorot dalam Seminar Kebangsaan “170 Tahun Kweekschool: Jejak Intelektual, Pemikiran, dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sikola Radjo”, yang digelar di Bukittinggi, 25 April 2026.

Dalam forum tersebut, jurnalis Hasril Chaniago, menyebutkan, lembaga pendidikan ini memiliki kontribusi fundamental terhadap lahirnya bahasa Indonesia.

Menurut Hasril Chaniago, awal pembakuan bahasa Melayu tidak dapat dipisahkan dari penyusunan Ejaan Van Ophuijsen pada akhir abad ke-19.

“Ejaan ini dirancang oleh Charles Adriaan van Ophuijsen bersama dua guru pribumi, Engku Nawawi dan Mohammad Taib Sultan Ibrahim, saat mereka mengajar di Kweekschool Fort de Kock,” sebutnya.

Hasril Chaniago, kalau tidak ada Kweekschool Fort de Kock, juga tidak ada bahasa Indonesia seperti yang kita kenal hari ini.

Ejaan Van Ophuijsen menjadi sistem pertama yang membakukan penulisan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Sejak diperkenalkan melalui buku Kitab Logat Melayu pada 1901 di Batavia, ejaan ini digunakan secara luas dalam dunia pendidikan, administrasi, dan penerbitan di Hindia Belanda. Ciri khasnya antara lain penggunaan “oe” untuk bunyi “u”, “tj” untuk “c”, serta “dj” untuk “j”.

Lingkungan intelektual di Kweekschool juga melahirkan tokoh-tokoh penting dalam perkembangan bahasa dan literasi. Empat alumni yang dikenal sebagai “Empat Saudara”, yakni Djamaloedin Rasad, Zainoeddin Rasad, Soetan Moehammad Zain, dan Baginda Dahlan Abdoellah, yang menjadi pelopor penerjemahan surat-surat R.A. Kartini ke dalam bahasa Melayu.

Karya tersebut diterbitkan pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Commissie voor de Volkslectuur, yang kemudian dikenal sebagai Balai Pustaka. Terjemahan ini berperan besar dalam menyebarkan gagasan emansipasi dan pemikiran modern di kalangan masyarakat pribumi.

Bahasa Melayu yang telah dibakukan melalui ejaan tersebut kemudian berkembang menjadi bahasa persatuan. Pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, bahasa Melayu secara resmi diangkat sebagai bahasa Indonesia dalam ikrar Sumpah Pemuda. Tokoh-tokoh seperti Ki Hadjar Dewantara, M. Tabrani, dan Muhammad Yamin turut berperan dalam proses penetapan tersebut.

Perjalanan bahasa Indonesia tidak berhenti di situ. Setelah kemerdekaan, sistem ejaan terus mengalami penyempurnaan, mulai dari Ejaan Soewandi pada 1947, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972, hingga menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang digunakan saat ini.

Selain itu, dua tokoh penting alumni Kweekschool, Soetan Moehammad Zain dan Sutan Takdir Alisjahbana, memberikan kontribusi besar dalam pengembangan tata bahasa, sastra, dan pemikiran modern. Keduanya mewakili generasi Balai Pustaka dan Pujangga Baru yang memperkuat identitas bahasa Indonesia.

Kini, sebagai SMAN 2 Bukittinggi, jejak sejarah Kweekschool tetap hidup sebagai pengingat bahwa dari ruang-ruang pendidikan di kota ini, lahir fondasi bahasa yang mempersatukan bangsa. Peran tersebut menegaskan bahwa bahasa Indonesia tidak hanya lahir dari peristiwa politik, tetapi juga dari proses panjang pendidikan dan pemikiran intelektual.

Sikola Radjo (Sekolah Radja)

Tahun 1855 pemerintah Belanda merencanakan mendirikan Sekolah Raja melalui Surat keputusan pendirian Sekolah Raja untuk mendidik anak negeri yang dikeluarkan pada tanggal 1 April 1856.

Sekolah ini dipimpin oleh Van Ophuysen dan dibantu oleh seorang guru melayu bernama Abdul Latif. Anak Tuanku Imam dari Koto Gadang. Jumlah muridnya sepuluh orang, mereka dididik untuk menjadi guru.

Lamanya pendidikan tiga tahun. Tahun 1869 guru Abdul Latif meninggal. Jabatannya digantikan oleh Saidina Asin dari Koto Laweh Padang Panjang. Beliau ini pernah menjadi guru di sekolah melayu Bangkahulu.

Kweekschool

Awal tahun 1873 sekolah raja lama diperbaiki. Tepatnya tanggal 1 Maret1873 sekolah raja diubah namanya menjadi Kweekschool. Guru kepalanya D. Gerth Van Wijk.

Sejak tahun 1904 murid Kweekschool terbagi dua. Pertama, murid yang

bakal menjadi guru, kedua murid yang bakal menjadi ambtenaar.

Jejak Intelektual, Pemikiran dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sikola Radjo

SMAN 2 Bukittinggi (dahulu Kweekschool) merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua dan paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Indonesia.

Sekolah ini telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang berperan penting dalam bidang keilmuan, pemikiran revolusioner, dan kenegaraan.

Tokoh-tokoh seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir bukan hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga memiliki pengaruh hingga level internasional.

Pemikiran dan keteladanan mereka lahir dari tradisi intelektual yang kuat, kritis, dan berakar pada kearifan nilai-nilai Minangkabau. Namun, generasi muda hari ini mulai kehilangan kedekatan dengan sejarah tokoh-tokoh besar tersebut.

Oleh karena itu, seminar kebangsaan ini diselenggarakan sebagai upaya napak tilas, memperingati 170 Tahun Kweekschool (Sikola Radjo) refleksi, dan aktualisasi nilai perjuangan tokoh alumni Kweekschool agar tetap relevan bagi kehidupan berbangsa saat ini. (YPA/AGZ)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....