Bogolan, Kain Lumpur yang Jadi Identitas Budaya Mali
- 22 Sep 2026 14:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mali memperingati Hari Kemerdekaan pada tanggal 22 September setiap tahunnya dengan menghargai warisan budaya nasionalnya.
- Bogolan atau bogolanfini adalah kain tradisional Mali yang dibuat menggunakan lumpur, merupakan simbol penting dari identitas budaya Afrika Barat.
- Istilah bogolanfini berasal dari bahasa Bambara dengan makna: bogo (lumpur/tanah), lan (dengan), dan fini (kain), mencerminkan proses pembuatannya.
RRI.CO.ID, Jakarta — Mali memperingati Hari Kemerdekaan setiap tanggal 22 September. Selain sejarahnya, negara di Afrika Barat ini juga memiliki warisan budaya berupa kain tradisional yang dibuat menggunakan lumpur.
Kain tersebut dikenal sebagai bogolan atau bogolanfini. Smithsonian menjelaskan, istilah bogolanfini berasal dari bahasa Bambara, yaitu bogo berarti lumpur atau tanah, lan berarti dengan, dan fini berarti kain.
Karena itu, bogolanfini secara sederhana dapat diartikan sebagai kain yang dibuat menggunakan lumpur. Kain ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bamana di Mali.
Proses pembuatannya cukup panjang dan membutuhkan keterampilan khusus. Smithsonian mencatat kain katun terlebih dahulu diberi pewarna dari rebusan daun hingga berubah menjadi warna kuning kecokelatan.
Setelah itu, lumpur digunakan untuk membuat motif pada permukaan kain. Lumpur tersebut dapat difermentasi dalam wadah tanah liat hingga berubah menjadi warna gelap yang khas.
Proses pewarnaan tidak hanya dilakukan sekali. Untuk mendapatkan warna yang lebih gelap, pengrajin dapat mengoleskan lumpur beberapa kali dan kembali merendam kain dalam larutan daun.
Pembuatan bogolan juga secara tradisional melibatkan pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki menenun kain, sedangkan perempuan banyak terlibat dalam proses pewarnaan, pembuatan motif, dan penyelesaian kain.
Motif pada bogolan bukan sekadar hiasan. Metropolitan Museum of Art menjelaskan, pola pada kain dapat menyampaikan pesan, peribahasa, lagu, atau peristiwa sejarah.
Pengetahuan mengenai motif tersebut juga diwariskan kepada generasi berikutnya. Perempuan muda dalam masyarakat Bamana mempelajari makna visual tersebut melalui proses belajar yang berlangsung dalam waktu lama.
Pada masa lalu, bogolan juga digunakan dalam berbagai tahap penting kehidupan. The Met mencatat kain tersebut digunakan perempuan dalam masa peralihan tertentu, termasuk sebelum pernikahan atau setelah melahirkan.
| Baca juga: Kain Sisa yang Dirajut Menjadi Indonesia |
Bogolan juga memiliki hubungan dengan kehidupan pemburu. Smithsonian menyebut kain tersebut digunakan oleh pemburu di hutan, sementara motifnya dapat mengandung makna sosial, sejarah, dan moral.
Seiring waktu, penggunaan bogolan tidak lagi terbatas pada kebutuhan tradisional. The Met mencatat, sejak 1970, bogolan berkembang dalam budaya populer Mali dan dunia fashion internasional.
Beberapa daerah di Mali juga dikenal sebagai pusat pembuatan bogolan. Smithsonian menyebut Beledougou sebagai salah satu wilayah yang terkenal dengan kain bogolan berkualitas dan motif yang rumit.
Kini, bogolan menjadi salah satu bentuk kerajinan yang memperlihatkan hubungan masyarakat Mali dengan alam dan tradisinya. Kain yang dibuat dari tanah, tumbuhan, air, dan tenaga manusia tersebut terus berkembang tanpa kehilangan identitas budayanya. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....