Kain Sisa yang Dirajut Menjadi Indonesia

  • 02 Sep 2026 01:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Tujuh belas pelajar dari lima sekolah di Jakarta menyusun peta Nusantara sepanjang 2,5 meter dari kain perca. Lalu menggelar lelang amal untuk inklusi disabilitas di panggung BNI wondrX 2026.

Di belakang panggung peragaan busana ICE BSD membentang peta Indonesia sepanjang 2,5 meter. Semuanya dibuat dari kain perca potongan kain sisa yang tadinya hampir terbuang.

Tujuh belas remaja, di bawah arahan Howard Alvias sebagai Project Director, menghabiskan waktu berbulan-bulan merangkainya di lantai rumah mereka masing-masing. Peta tersebut menjadi latar utama dari acara amal empat jam yang mereka rancang dan jalankan secara mandiri.

Acara ini bertajuk Merajut Perca Nusantara (Weaving the Archipelago from Scraps), yang digagas oleh Weaving Nusantara. Acara ini juga kerja sama dengan pelajar yang berasal dari lima sekolah.

Yakni ACS Jakarta, JIS, BSJ, Santa Ursula BSD, dan Sekolah Murid Merdeka. Sebagian besar dari mereka bahkan belum saling kenal sebelum proyek ini berjalan.

Selama delapan bulan, mereka terbagi ke dalam enam divisi, manajemen proyek, kreatif, pemetaan kreatif, komunikasi, umum, dan keuangan. Untuk menyusun rangkaian acara empat jam yang harus berjalan tepat waktu.

Acara tersebut berlangsung di panggung Style Avenue, bazaar mode dan gaya hidup besutan KKB BNI dalam rangkaian BNI wondrX 2026. Pihak penyelenggara telah menyediakan tanggal, lokasi, serta penonton; para pelajar ini mendapatkan satu slot di hari terakhir untuk diisi secara penuh.

Seluruh pengolahan konsep, tiga kategori lomba, lokakarya pra-acara, peragaan busana, lelang, hingga pencarian bahan kain dan peserta, murni hasil kerja keras mereka. Selain menggalang dana untuk Yayasan Wisma Cheshire Indonesia, acara ini sekaligus merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HUT ke-80 BNI.

Satu Ide, Dirangkai Lewat Kain

Konsep dasarnya sederhana: barang yang dianggap sampa, mirip seperti kelompok masyarakat yang sering terabaikan, sebenarnya punya nilai dan keindahan tersendiri jika diberi ruang.

Pesan itu terasa kuat sepanjang acara. Ikon utamanya adalah peta berukuran 2,5 m × 1,5 m yang dicetak di atas kain putih, lalu ditutupi seluruh permukaannya dengan kain perca hasil donasi.

Corak kain disesuaikan dengan daerah asalnya, seperti batik Jawa untuk Pulau Jawa dan motif khas Papua untuk Pulau Papua. Panitia merangkai peta ini secara bertahap selama berbulan-bulan di rumah anggota, dengan menyisakan dua kepingan terakhir.

Pada 21 Agustus, Ketua KKB BNI Eka Putrama, Ketua Panitia BNI wondrx 2026, Grace Situmeang memasangkan dua kepingan penutup tersebut sebagai tanda dibukanya Style Avenue secara resmi. Peta tersebut terus dipajang di Style Avenue hingga hari ini berdiri anggun di belakang panggung utama.

Di depannya, berlangsung peragaan busana perca oleh para pelajar, penampakan delapan rompi finalis, serta sesi lelang amal secara langsung. Howard dan Kenzo, dua anak muda bagian dari panitia memberikan beberapa kesan dan pesan.

"Awalnya cuma tumpukan kain sisa, dan kami sendiri sempat ragu proyek ini bisa jalan. Kami bertujuh belas berasal dari lima sekolah berbeda dan banyak yang belum kenal satu sama lain," kata Project Director, Weaving Nusantara, Howard Alvias.

"Berbulan-bulan akhir pekan kami habiskan duduk di lantai ruang tamu cuma berbekal gunting. Tidak ada satu pun kepingan yang pas di awal, sama seperti kami."

Tapi, kata dia, setiap potongan perca di peta ini hadir dari kepedulian banyak orang. Di antaranya ibu-ibu KKB BNI, tim LAKON, desainer senior yang mengkurasi rompi, sampai masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia rela mengirimkan kain mereka.

"Walau beda sekolah dan latar belakang. Kami berhasil merajut satu Indonesia," ucapnya.

Finance Director, Weaving Nusantara, Kenzo Sugiarso mengatakan uang di proyek ini sepenuhnya titipan dari sponsor, donatur, dan para peserta lelang. Jadi tugas utama ia adalah memastikan semuanya tercatat rapi, terutama saat sesi lelang.

"Penawaran online dan tawaran langsung di lokasi harus dicek ketat satu per satu supaya tidak ada kekeliruan. Dan seluruh hasilnya bisa benar-benar tersalurkan ke Yayasan Wisma Cheshire Indonesia."

Dari Mana Asal Kainnya?

Pasokan kain perca datang dari dua jalur:

● Jenama Lokal: Sebanyak 18 brand tekstil dan busana Indonesia yang membuka booth di Style Avenue. Seperti Batik Chic, Lakon, Nona Rara, Omah Etnic, Kamisuka,

Melekat Dijiwa, dan Batik Anita Ayu — menyerahkan sisa kain produksi mereka.

● Masyarakat Luas: Divisi komunikasi membuka kampanye terbuka melalui Instagram. Masyarakat umum, pelajar, hingga orang-orang yang tidak dikenal panitia turut mengirimkan perca dari berbagai daerah di Indonesia karena tidak ingin kain berkualitas tersebut terbuang sia-sia.

Brand yang berpartisipasi diumumkan langsung dari atas panggung. Serta menerima penghargaan di booth mereka masing-masing.

Tiga Lomba, Satu Meja Kain

1. Menghias Tote Bag: Dikhususkan untuk siswa tuli dan teman dengar, bekerja sama. Ini dilakukan dengan Yayasan Wisma Cheshire Indonesia (tote bag kanvas dibeli langsung dari hasil karya perajin yayasan).

2. Mozaik Kain di Atas Kanvas: Diikuti oleh anak-anak usia 7–12 tahun. Ini dikerjakan dalam kelompok kecil dengan pendampingan fasilitator.

3. Make-A-Vest: Kompetisi untuk pelajar usia 13–18 tahun. Setiap peserta menerima blind box berisi bahan yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

Mereka diberi waktu delapan jam di Rumah Sehati KKB BNI pada 19 Juli 2026. Dibimbing oleh fasilitator dari LAKON, untuk membuat rompi bertema Indonesia.

Peserta dilarang saling bertukar bahan maupun membeli bahan tambahan. Sebanyak 17 rompi berhasil diselesaikan dan masuk ke tahap lelang online hingga ditutup pada 22 Agustus.

Seorang desainer senior kemudian memilih delapan rompi terbaik berdasarkan kreativitas dan cerita di baliknya untuk dilelang secara langsung (live auction) pada 23 Agustus. Harga pembuka lelang langsung disesuaikan dengan penawaran onlinetertinggi.

Sementara itu, sembilan rompi lainnya resmi dimiliki oleh pemenang lelang online sesuai harga penutupan. Seluruh hasil lelang (setelah dikurangi biaya operasional) disalurkan langsung ke Yayasan Wisma Cheshire Indonesia.

Poin penting bagi panitia: para penghuni dan staf yayasan bukan sekadar penerima bantuan. Perajin dari Wisma Cheshire memproduksi tote bag untuk lomba, bertindak sebagai juri, dan menggelar demonstrasi menjahit langsung di samping area lomba anak-anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....