Tak Banyak yang Tahu, Akar Mengkudu Pernah Jadi Pewarna Kain Tradisional

  • 28 Jul 2026 14:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Akar dan batang mengkudu telah dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk kain tradisional Indonesia secara turun-temurun sebelum pewarna sintetis mulai digunakan.
  • Mengkudu lebih dikenal oleh masyarakat modern sebagai bahan jus atau suplemen kesehatan, padahal nilai tradisionalnya sebagai pewarna kain telah hilang dari kesadaran publik.
  • Jurnal ilmiah IOP Conference Series: Materials Science and Engineering mendokumentasikan penggunaan mengkudu sebagai pewarna kain di berbagai daerah di Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta – Mengkudu lebih dikenal sebagai buah yang diolah menjadi jus atau suplemen kesehatan. Padahal, jauh sebelum pewarna sintetis digunakan, akar mengkudu telah dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk kain tradisional.

Menurut jurnal IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, tanaman mengkudu telah dimanfaatkan sebagai pewarna kain secara turun-temurun di Indonesia. Akar dan batang menjadi sumber utama pewarna alami yang digunakan di berbagai daerah.

"Akar dan batang mengkudu secara umum digunakan sebagai sumber utama pewarna alami pada kain tradisional," tulis IOP Conference Series: Materials Science and Engineering. Jurnal tersebut juga menyebut akar mengkudu berpotensi menjadi alternatif pewarna alami yang lebih ramah lingkungan.

Tradisi tersebut ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Flores. Pewarna dari akar mengkudu digunakan untuk memberikan warna khas pada berbagai kain tradisional, termasuk batik dan tenun.

Menurut penelitian tersebut, akar mengkudu mengandung senyawa alami seperti antrakuinon, flavonoid, dan tanin. Senyawa inilah yang menghasilkan warna alami sekaligus menjadi alasan mengapa tanaman ini banyak diteliti sebagai alternatif pewarna ramah lingkungan.

Proses pembuatannya diawali dengan mengekstrak akar mengkudu hingga menghasilkan larutan pewarna. Larutan tersebut kemudian digunakan untuk mewarnai kain, meski memiliki tantangan seperti kestabilan warna dan masa simpan yang relatif singkat.

Seiring berkembangnya industri tekstil, pewarna sintetis mulai menggantikan pewarna alami karena lebih praktis, murah, dan menghasilkan warna yang seragam. Akibatnya, penggunaan akar mengkudu sebagai pewarna tradisional semakin jarang dijumpai.

Meski demikian, pewarna alami dari mengkudu kembali menarik perhatian para peneliti. Selain berasal dari sumber yang terbarukan, pemanfaatannya juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis.

Kini, mengkudu tidak hanya dikenal melalui buahnya. Akar tanaman ini menjadi bukti bahwa kekayaan hayati Indonesia telah lama dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam tradisi tekstil Nusantara. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....