Mengetahui Asal Usul Tradisi Maulid Nabi di Indonesia
- 24 Agt 2026 14:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peringatan Maulid Nabi berkembang beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat dan memiliki sejumlah versi sejarah mengenai awal kemunculannya.
- Di Indonesia, peringatan Maulid berakulturasi dengan budaya lokal dan melahirkan berbagai tradisi daerah.
- Sekaten, Walimah Gorontalo, dan Arakan Perahu Tangerang menjadi beberapa contoh tradisi Maulid yang masih berkembang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu tradisi keagamaan yang berkembang luas di Indonesia. Selain diisi dengan pembacaan selawat dan kisah kehidupan Rasulullah, perayaannya juga hadir dalam berbagai bentuk tradisi daerah.
Maulid Nabi berasal dari kata maulid atau milad yang berarti kelahiran. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang kelahiran sekaligus meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Melansir berbagai sumber dan Kementerian Agama, tradisi peringatan Maulid Nabi tidak muncul pada masa kehidupan Rasulullah. Sejumlah sumber sejarah menyebut peringatan tersebut berkembang beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, dengan berbagai pendapat mengenai awal kemunculannya.
Salah satu pendapat menyebut peringatan Maulid Nabi mulai diselenggarakan oleh Muzhaffaruddin al-Kaukabri, penguasa Irbil, pada awal abad ke-7 Hijriah. Namun, terdapat pula pendapat yang mengaitkan kemunculannya dengan Dinasti Fathimiyah di Mesir pada masa sebelumnya.
Perkembangan tradisi tersebut kemudian turut memengaruhi masyarakat Muslim di berbagai wilayah. Di Indonesia, peringatan Maulid berkembang bersama budaya lokal sehingga bentuk perayaannya berbeda-beda di setiap daerah.
Salah satu contohnya adalah Sekaten yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta. Data Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat Sekaten sebagai upacara tahunan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam kajian Kementerian Agama, Sekaten menjadi bagian dari Hajad Dalem Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan pada bulan Mulud atau Rabiul Awal. Tradisi tersebut juga berkaitan dengan pelaksanaan Garebeg Mulud.
Sejumlah sumber menyebut Sekaten memiliki keterkaitan dengan strategi dakwah Islam di Jawa. Gamelan digunakan dalam rangkaian tradisi tersebut dan menjadi salah satu media yang menghubungkan unsur budaya Jawa dengan peringatan keagamaan.
Selain Sekaten, tradisi Maulid juga berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Kementerian Agama mencatat adanya tradisi seperti Panjang Jimat di Cirebon dan Bunga Lado di Padang sebagai bentuk perayaan Maulid Nabi di daerah.
Di Gorontalo, masyarakat mengenal tradisi Walimah yang telah berkembang selama berabad-abad. Tradisi tersebut memadukan pembacaan zikir, arakan makanan tradisional, dan kegiatan berbagi dalam rangka memperingati Maulid Nabi.
Sementara itu, di Tangerang terdapat tradisi Arakan Perahu yang berkembang di Kampung Kalipasir. Tradisi tersebut berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan dipercaya memiliki akar sejarah sejak masa Sultan Banten keempat pada 1639.
Ragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi di Indonesia tidak memiliki bentuk yang seragam. Nilai keagamaan dalam peringatannya kemudian hadir berdampingan dengan budaya masyarakat yang telah berkembang di masing-masing daerah.
Karena itu, Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah. Peringatan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk meneladani akhlak Nabi sekaligus mempertahankan kekayaan tradisi lokal yang diwariskan antargenerasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....