Festival Bedhayan VI Ajak Generasi Muda Temukan Keseimbangan lewat Tari
- 08 Agt 2026 16:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Festival Bedhayan VI mengangkat tema “Memayu Hayuning Bawono” dengan pesan tentang harmoni, ketenangan, dan keseimbangan dalam kehidupan.
- Ketua Umum Festival Bedhayan, Aylawati Sarwono, menilai tari Bedoyo bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi dapat menjadi sarana mencapai keseimbangan mind, body, and soul.
- Keselarasan musik, gerakan, dan tarikan napas dalam tari Bedoyo diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan, terutama era digital.
RRI.CO.ID, Jakarta - Festival Bedhayan VI kembali digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026, dengan mengusung tema "Memayu Hayuning Bawana". Perhelatan seni budaya ini tidak sekadar menghadirkan keindahan tari tradisi, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan diri di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Festival Bedhayan VI menghadirkan 16 kelompok tari dari berbagai daerah Indonesia. Masing-masing kelompok menampilkan karya Bedhaya dengan kekhasan koreografi, filosofi, serta nilai budaya yang berbeda.
Ketua Umum Festival Bedhayan VI, Aylawati Sarwono, mengatakan tema "Memayu Hayuning Bawana" menjadi pijakan untuk menyampaikan pesan bahwa seni tari tradisional dapat menjadi ruang refleksi. Sekaligus, sarana menemukan ketenangan batin di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
"Salah satu keistimewaan Festival Bedhayan VI tahun ini adalah kehadiran para maestro tari dari Solo yang akan tampil sebagai sajian penutup. Para penari yang seluruhnya laki-laki tersebut merupakan seniman profesional yang telah mendalami seni tari sejak usia dini," kata Aylawati kepada wartawan jelang pementasan.
Ia menyebut kehadiran para maestro itu dinilai menjadi momentum penting. Terutama, untuk memperlihatkan bagaimana tradisi tari dapat terus hidup melalui penguasaan teknik, pengalaman, sekaligus penghayatan yang mendalam.
Penggagas Festival Bedhayan sejak tahun 2021 ini menjelaskan, tema "Memayu Hayuning Bawana" menjadi pengingat bahwa tari Bedhaya tidak hanya berbicara mengenai gerak dan estetika. Namun, juga menghadirkan pengalaman batin bagi penarinya maupun mereka yang mempelajarinya.

Menurut Aylawati, keselarasan antara musik, gerakan, hingga tarikan napas dalam tari Bedhaya dapat memberikan ketenangan sekaligus melatih keseimbangan mind, body, and soul. Pesan tersebut dinilai semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat yang bergerak cepat, terutama akibat perkembangan teknologi dan era digital.
"Mulai dari tarikan napasnya, semuanya itu harus selaras. Sehingga siapa pun yang berlatih tarian ini, kami harapkan bisa mendapatkan keseimbangan mind, body, and soul di tengah suasana hiruk-pikuk dunia yang sangat cepat berubah, terutama di era digital ini," ujarnya.
Dari Sepi Menjadi Gerakan Bersama
Perjalanan Festival Bedhayan juga disebut mengalami perkembangan signifikan sejak pertama kali digelar. Jika pada penyelenggaraan awal festival masih berlangsung dalam suasana yang relatif sepi dan penggagasnya merasa berjalan sendiri dalam memperkenalkan tari Bedhaya, kini semakin banyak pihak yang terlibat, mendukung, dan memberikan perhatian.
Perkembangan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri. Karena, tujuan utama festival adalah memperkenalkan dan memasyarakatkan tari tradisi Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.
"Tujuan saya menyelenggarakan Festival Bedayan ini ya itu, memasyarakatkan sebuah tarian yang milik Indonesia sendiri, yang tidak kalah indah dan bisa memberikan keseimbangan mind, body, and soul,” katanya.
Ia menilai Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang dapat menjadi sumber ketenangan dan keseimbangan diri, sebagaimana masyarakat mengenal yoga dari India maupun taichi dari Cina. "Karena kita punya Bedhaya dari Indonesia," ucapnya.
Ajak Anak Muda Tak Perlu Jauh untuk Healing
Pesan khusus juga disampaikan kepada generasi muda yang menghadapi berbagai tekanan dan kejenuhan akibat ritme kehidupan yang semakin cepat. Alih-alih selalu mencari tempat jauh untuk mendapatkan ketenangan, generasi muda diajak kembali mendekat kepada seni dan budaya yang ada di lingkungan sekitar.
Aylawati mendorong anak-anak muda untuk mencari sanggar tari di sekitar tempat tinggal dan mulai belajar tari Bedhaya. Menurutnya, kelembutan gerak dalam tari tersebut mengajarkan sejumlah nilai penting, seperti kepasrahan, keseimbangan, dan kesabaran.
"Kalau mau healing karena kalian sudah jenuh dengan riuh rendah dunia ini, enggak usah pergi jauh-jauh ke mana-mana. Cari sanggar-sanggar tari di sekitar tempat tinggal kalian, belajarlah tari Bedhaya" katanya.
Ia meyakini proses belajar tari tradisi dapat menjadi ruang untuk menemukan kembali kedamaian dan ketenangan diri. Melalui Festival Bedhayan VI, tari tradisi diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat masa kini sekaligus sumber inspirasi bagi generasi mendatang.
Di tengah derasnya perubahan dan perkembangan teknologi, tari Bedhaya menawarkan pesan sederhana. Yakni, untuk menemukan keseimbangan, manusia terkadang tidak perlu pergi jauh, tetapi cukup kembali mengenali budaya dan kearifan yang telah tumbuh di tanahnya sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....