Mengenal Nyi Ageng Serang, Sosok Pejuang Perempuan di Balik Perang Diponegoro
- 08 Agt 2026 10:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nyi Ageng Serang memimpin pasukan dan menjadi penasihat perang Pangeran Diponegoro saat Perang Diponegoro 1825
- Nyi Ageng Serang dikenal menggunakan strategi penyamaran dengan daun talas hijau serta memimpin gerilya di sejumlah wilayah
- Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nyi Ageng Serang melalui SK Presiden Nomor 084/TK/Tahun 1974
RRI.CO.ID, Jakarta - Nyi Ageng Serang merupakan salah satu pejuang perempuan yang terlibat langsung dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Ia memimpin pasukan sekaligus menjadi penasihat perang Pangeran Diponegoro dalam Perang Diponegoro 1825.
Dilansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Nyi Ageng Serang memiliki nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi. Ia merupakan putri Pangeran Natapraja, penguasa wilayah Serang, Jawa Tengah sekaligus panglima perang Sultan Hamengku Buwono I.
Nyi Ageng Serang juga tercatat sebagai salah satu keturunan Sunan Kalijaga dari garis keluarganya. Ia memiliki seorang cucu yang kemudian dikenal sebagai pahlawan nasional, yaitu R.M. Soewardi Surjaningrat atau Ki Hajar Dewantara.
Pada awal Perang Diponegoro 1825, Nyi Ageng Serang yang berusia 73 tahun memimpin pasukan menggunakan tandu membantu perjuangan melawan Belanda. Selain memimpin pasukan dalam pertempuran, ia juga dipercaya menjalankan peran sebagai penasihat perang Pangeran Diponegoro.
Perjuangan Nyi Ageng Serang berlangsung di sejumlah wilayah, antara lain Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, hingga Rembang. Ia juga mengikuti pelatihan kemiliteran serta mempelajari siasat perang bersama para prajurit laki-laki.
Salah satu strategi perang yang dikenal dari Nyi Ageng Serang adalah memanfaatkan daun talas hijau sebagai bagian penyamaran. Strategi tersebut digunakan dalam perjuangan menghadapi pasukan Belanda selama berlangsungnya perlawanan terhadap penjajahan.
Nyi Ageng Serang juga pernah memimpin gerilya secara langsung di sekitar Desa Beku, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Atas permintaan Pangeran Diponegoro, ia kemudian mendekati Yogyakarta dan mendirikan markas perjuangan di Prambanan.
Keberadaan markas tersebut membuat Nyi Ageng Serang memiliki hubungan langsung dengan Keraton Yogyakarta dalam perjuangannya. Ia juga dapat memberikan nasihat kepada Sultan Sepuh atau Hamengku Buwono II mengenai situasi perjuangan.
Nyi Ageng Serang wafat pada 1838 dalam usia 86 tahun dan dimakamkan sesuai permintaan almarhumah. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden Nomor 084/TK/Tahun 1974.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....