Menyusuri Kampung Tugu, Warisan Portugis yang Bertahan Ratusan Tahun

  • 06 Agt 2026 12:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kampung Tugu di Cilincing, Jakarta Utara, merupakan permukiman bersejarah yang dihuni warga keturunan Portugis.
  • Kampung Tugu menjadi bukti nyata proses akulturasi budaya yang menghasilkan tradisi dan identitas unik selama berabad-abad.

RRI.CO.ID, Jakarta – Di tengah hiruk pikuk Jakarta, ada satu kampung bersejarah yang hingga kini masih mempertahankan jejak budaya Portugis. Kampung tersebut menjadi saksi perjalanan panjang akulturasi budaya yang melahirkan tradisi dan identitas khas selama berabad-abad.

Berlokasi di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Kampung Tugu dikenal sebagai permukiman bersejarah keturunan Portugis tertua di Indonesia. Wilayah tersebut masih mempertahankan berbagai kekayaan budaya yang diwariskan secara turun temurun sejak masa kolonial dahulu.

Dilansir dari berbagai sumber, orang-orang Portugis pertama kali datang ke wilayah itu pada abad ke-17. Mereka merupakan tawanan maupun komunitas Kristen dari Malaka yang kemudian menetap setelah memperoleh lahan dari VOC.

Kehidupan masyarakat yang relatif terpisah dari kawasan lain membuat identitas budaya mereka tetap terpelihara selama ratusan tahun. Kondisi tersebut memungkinkan berbagai tradisi Portugis terus diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa banyak mengalami perubahan besar.

Salah satu unsur yang paling menonjol adalah musik Keroncong Tugu yang berkembang sejak masa-masa awal permukiman tersebut. Alunan musik itu merupakan hasil perpaduan tradisi Portugis dengan budaya lokal hingga melahirkan karakter bunyi yang berbeda.

Selain musik, masyarakat Kampung Tugu juga pernah menggunakan bahasa Kreol Portugis dalam kehidupan sehari-hari selama beberapa abad. Ini merupakan alat komunikasi utama antarkeluarga sebelum perlahan tergantikan oleh penggunaan bahasa Indonesia modern.

Pengaruh Portugis juga terlihat pada keberadaan Gereja Tugu yang menjadi salah satu bangunan bersejarah di kawasan tersebut. Rumah ibadah tersebut kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya karena memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi.

Berbagai tradisi khas masih dipertahankan masyarakat Kampung Tugu sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan nenek moyang mereka. Tradisi Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi tetap dilaksanakan setiap awal tahun sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan saling memaafkan.

Tradisi Rabo-Rabo dilakukan dengan saling mengunjungi rumah kerabat sambil bermain musik keroncong dan bersalaman. Sedangkan tradisi Mandi-Mandi dilakukan dengan saling mencoreng wajah menggunakan bedak dingin yang menyimbolkan penyucian diri.

Jejak Portugis juga turut terlihat melalui sejumlah nama keluarga yang masih digunakan masyarakat Kampung Tugu hingga sekarang. Beberapa keluarga juga tetap melestarikan cerita leluhur, kesenian, serta kebiasaan yang memperlihatkan hubungan historis dengan Portugal. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....