Lestarikan Seni Ukir Jepara, Menbud Fadli Resmikan Pameran Tatah 2026

  • 29 Apr 2026 21:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menbud Fadli meresmikan Pameran Tatah: Seni Ukir Jepara 2026 sebagai upaya pelestarian seni kriya tradisional dan apresiasi terhadap karya maestro ukir Jepara.
  • Pameran menampilkan karya artistik tinggi, seperti ukiran 'macan kurung' dan teknik ukir berlapis hingga tujuh lapisan, yang mencerminkan keterampilan perajin Jepara selama ratusan tahun.
  • Pemerintah mendorong regenerasi perajin melalui literasi budaya, workshop, dan penguatan ekosistem seni ukir, di tengah menurunnya minat generasi muda.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan meresmikan Pameran Tatah: Seni Ukir Jepara 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 29 April 2026. Pameran ini merupakan bentuk apresiasi terhadap warisan budaya seni ukir Jepara sekaligus upaya pelestarian seni kriya tradisional Indonesia.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan bahwa Jepara dikenal sebagai daerah yang masih memiliki banyak seniman, maestro, dan pengrajin ukir. Menurutnya, pameran ini menampilkan karya-karya unggulan, kolaborasi, serta artefak yang mencerminkan pencapaian artistik tinggi dari seni ukir Jepara.

"Yang kita pamerkan di sini adalah karya-karya dan juga kolaborasi maupun sejumlah artefak dengan pencapaian artistik tertinggi. Tentu saja ini membedakan dari produk yang masif yang memang digunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti furniture dan mebel," katanya kepada wartawan usai peresmian Pameran Tatah: Seni Ukir Jepara 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 29 April 2026.

Ia mencontohkan sejumlah karya seperti ukiran 'macan kurung' hingga karya dari satu kayu utuh dengan teknik ukir berlapis. Bahkan mencapai lima hingga tujuh lapisan.

Hal tersebut menunjukkan keterampilan dan pencapaian artistik yang luar biasa dari para perajin ukir Jepara. Terutama bagi mereka yang telah berkembang selama ratusan tahun.

"Mudah-mudahan ini menjadi salah satu keunikan yang mendapatkan apresiasi tidak hanya bagi masyarakat Indonesia. Tapi bagi masyarakat dunia, masyarakat internasional," ucapnya.

Ia menegaskan, pameran ini juga menjadi bukti kekayaan medium seni di Indonesia yang tidak hanya terbatas pada karya dua dimensi. Tetapi juga melalui media kayu yang memiliki nilai sejarah panjang sejak masa nenek moyang.

Lebih lanjut, Kementerian Kebudayaan berupaya mendorong regenerasi perajin ukir di tengah menurunnya minat generasi muda. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan literasi budaya, penyelenggaraan workshop, serta program peningkatan kapasitas bagi generasi baru.

Baginya, tantangan saat ini adalah banyaknya pilihan profesi bagi generasi muda. Berbeda dengan masa lalu ketika tradisi menjadi faktor utama dalam melanjutkan keterampilan keluarga.

"Kita harapkan sekarang mereka yang punya DNA sebagai pengukir-pengukir hebat itu harusnya kita salurkan dan mendapatkan tempat. Termasuk melalui program mungkin nantinya bisa kita desain melalui manajemen talenta kita, manajemen talenta nasional kita," ujarnya, penuh harap.

Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan bahwa tatah bukan sekadar alat dalam seni ukir. Melainkan perpanjangan tangan sekaligus representasi spiritual dari jiwa para pengukir.

"Dari setiap ketukannya lahir karya yang tidak hanya indah. Tetapi juga sarat makna," ujarnya.

Ia menambahkan, Jepara mungkin dikenal sebagai kota kecil di pesisir Pulau Jawa. Namun, Jepara sejatinya menyimpan perjalanan panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....