Buku TATAH Dorong Rekonstruksi Sejarah Jepara lewat Seni Ukir Lokal
- 10 Jul 2026 23:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Buku TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara menghadirkan rekonstruksi sejarah Jepara melalui seni ukir berdasarkan riset lintas disiplin, dengan harapan menjadi landasan penelitian dan diskusi baru.
- Penyusunan buku melibatkan kajian arsip, artefak, dan peninggalan budaya untuk mengangkat sejarah lokal Jepara sebagai bagian penting dari sejarah nasional sekaligus mendukung pelestarian tradisi ukir.
RRI.CO.ID, Jakarta - Peluncuran buku TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara menghadirkan perspektif baru mengenai sejarah Jepara melalui seni ukir. Buku tersebut disusun berdasarkan riset lintas disiplin selama sekitar satu tahun.
Direktur TATAH Veronica Rompies mengatakan buku itu tidak hanya mendokumentasikan pameran seni ukir Jepara. Menurutnya, buku tersebut menjadi titik awal lahirnya penelitian dan diskusi baru.
"Harapan kami sederhana, buku ini menjadi landasan lahirnya penelitian dan ruang diskusi baru. Tradisi ukir harus terus dipahami dari berbagai sudut pandang," kata Direktur TATAH Veronica Rompies, dalam Launching dan Bedah Buku Rekonstruksi Jepara melalui Seni Ukir di Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta, 10 Juli 2026.
Veronica menjelaskan rangkaian program TATAH tidak berhenti pada peluncuran buku maupun pameran. Seluruh program diharapkan melahirkan kebijakan yang menjaga keberlangsungan tradisi ukir Jepara.
"Tradisi tidak cukup hanya dipamerkan, tetapi harus terus hidup dan diwariskan. Ketika sejarah ditinggalkan, kita juga berisiko kehilangan identitas pada masa depan," ujar Veronica.
Ia menambahkan perhatian harus diberikan kepada karya ukir sekaligus para pengukir sebagai penjaga tradisi. Pameran TATAH juga diperpanjang hingga 26 Juli agar menjangkau lebih banyak masyarakat.
Salah satu penulis buku, Arif Akhyat, menjelaskan buku tersebut lahir dari kegelisahan memahami sejarah Jepara secara menyeluruh. Pendekatan yang digunakan menempatkan seni ukir sebagai bagian dari perjalanan sejarah masyarakat.
"Buku ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan kami memahami Jepara secara utuh. Kami ingin menghadirkan sejarah lokal sebagai bagian penting dalam sejarah nasional Indonesia," kata Arif Akhyat.
Menurut Arif, rekonstruksi sejarah dilakukan melalui kajian arsip, artefak, dan berbagai peninggalan budaya. Pendekatan itu menawarkan cara baru membaca perkembangan Jepara selama berabad-abad.
"Selama ini sejarah nasional lebih banyak melihat dari perspektif makro. Padahal sejarah lokal menyimpan pelajaran penting bagi pembangunan identitas bangsa," ujar Arif.
Arif mengatakan penyusunan buku melibatkan peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya ialah penelusuran arsip berbahasa Belanda yang belum banyak dimanfaatkan.
"Kami berusaha menghadirkan karya terbaik meski masih memiliki banyak kekurangan. Semoga buku ini menjadi awal penelitian baru mengenai Jepara dan seni ukirnya," ucap Arif. (Agnes Claudia Ohoira).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....