Makna Tradisi Grebeg Besar di Keraton Surakarta saat Iduladha
- 27 Mei 2026 15:49 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Grebeg Besar merupakan tradisi akulturasi budaya Islam untuk menyambut Iduladha di Surakarta.
- Tradisi ini menghadirkan dua gunungan utama berisi hasil bumi dan makanan yang akan diperebutkan masyarakat.
- Grebeg besar menjadi simbol mencari berkah.
RRI.CO.ID, Surakarta – Tradisi Grebeg Besar merupakan wujud akulturasi budaya Islam yang sangat kental. Upacara adat ini digelar untuk menyambut Hari Raya Iduladha di Kota Surakarta.
Acara ini melambangkan rasa syukur mendalam manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, Grebeg Besar diadakan di Keraton Surakarta bertujuan untuk menjaga hubungan baik antara keraton dan masyarakat.
Dalam acara itu, dua buah gunungan disiapkan sebagai simbol utama dalam upacara adat yang sakral ini yang dinamakan "Gunungan Jaler" dan juga "Gunungan Estri". Keduanya mewakili unsur laki-laki serta perempuan dalam filosofi kehidupan masyarakat Jawa.
Tinggi gunungan tersebut bisa mencapai 2 meter. Ketika dipanggul oleh abdidalem tingginya bisa mencapai kurang lebih 3 meter.
"Untuk gunungan Jaler atau laki-laki itu berisi hasil bumi mentah, ya," kata Kerabat Keraton Surakarta, Kanjeng Nuki dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu, 27 Mei 2026. Isi gunungan Jaler biasanya berupa Polo Pendem atau berbagai hasil pertanian yang tumbuh di dalam maupun permukaan tanah.
"Kemudian untuk gunungan Estri atau perempuan biasanya berisi makanan kering siap saji atau jajanan-jajanan," ujarnya. Makanan tersebut mencerminkan simbol kelembutan rezeki yang wajib disyukuri masyarakat.
Kedua gunungan itu akan diarak mulai dari ketaton, ke Masjid Agung untuk didoakan, dan kembali ke keraton. Setelahnya, masyarakat akan berebut mengambil makanan dan hasil bumi dari dua gunungan tersebut.
Menurut Kanjeng Nuki, hal ini menjadi simbol mencari berkah yang didoakan yang diharapkan mampu memperkuat rasa syukur serta persatuan. "Harapan mengalap berkah atau mendapatkan berkah dari apa yang sudah didoakan tadi, supaya menjadi berkah yang kembali kepada mereka," ucap dia.
Tahun ini, Grebeg Besar Keraton Surakarta akan berlangsung selama dua hari. Hal ini bertujuan untuk menghormati masyarakat yang pada hari sebelumnya tidak mengikuti acara karena merayakan Iduladha bersama keluarga.
"Grebeg besar ini diadakan di hari kedua karena untuk menghormati boros sentono. Kemudian abdi dalem dan masyarakat yang pada hari pertama melakukan Iduladha bersama keluarga," ujar Kanjeng Nuki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....