Tradisi Meugang di Aceh dalam Menyambut Hari Raya Iduladha

  • 27 Mei 2026 11:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tradisi Meugang biasanya berlangsung satu atau dua hari sebelum Iduladha.
  • Meugang menjadi simbol rasa syukur sekaligus sarana berbagi kepada masyarakat.
  • Tradisi ini tetap dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Aceh.

RRI.CO.ID, Jakarta – Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut hari raya Islam dengan menyembelih dan memasak daging bersama keluarga. Tradisi ini biasanya berlangsung satu atau dua hari sebelum Iduladha dimulai dan melibatkan konsumsi daging bersama sanak keluarga.

Bila berdasarkan hadis riwayat Bukhari, hewan yang disembelih sebelum hari raya Iduladha memang tidak dikategorikan sebagai kurban. Maka dari itu, tradisi menyembelih hewan pada Meugang sebelum Iduladha hanya terhitung sebagai sedekah.

"Kambingmu hanya kambing daging. (HR. Bukhari 912)", dikutip dari Baznas.go.id.

Dalam bahasa Aceh, Meugang berarti makan besar bersama keluarga dan kerabat. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman Kerajaan Aceh dan dipandang sebagai bagian budaya lokal yang kuat.

Menurut sejarahnya, Meugang sudah ada sejak masa Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17, ketika pemotongan hewan dilakukan sebagai bentuk rasa syukur. Pada masa itu, daging hasil sembelihan juga dibagikan kepada masyarakat sebagai wujud kepedulian sosial.

Selain menyembelih dan memasak daging, aktivitas Meugang juga melibatkan banyak warga yang berbondong-bondong ke pasar untuk membeli kebutuhan bahan makanan. Permintaan daging sapi, kerbau, atau kambing seringkali meningkat signifikan menjelang tradisi Meugang, bahkan memengaruhi harga pasar.

Tradisi ini tidak hanya menjadi acara kuliner, tetapi juga momen penting mempererat tali silaturahmi antarwarga dan antaranggota keluarga. Banyak warga perantauan pulang kampung agar dapat berkumpul bersama orang tua dan sanak saudara saat Meugang berlangsung.

Meugang mengandung nilai sosial luhur, yaitu saling berbagi dan memperhatikan sesama, termasuk mereka yang kurang mampu. Pada hari tradisi itu, rumah-rumah sering dipenuhi lauk pauk berbasis daging yang kemudian dinikmati bersama.

Meugang juga mencerminkan kekayaan budaya Aceh yang tetap dipertahankan meskipun zaman berubah dan masyarakat semakin berkembang. Tradisi ini menjadi bagian identitas masyarakat Aceh yang khas tanpa mengurangi nilai rasa syukur menyambut Iduladha.

Meski awalnya tradisi istimewa ini identik dengan perayaan besar, kini Meugang terus dilestarikan di berbagai komunitas di seluruh Provinsi Aceh. Acara ini dipercaya semakin memperkuat nilai kebudayaan dan jiwa kebersamaan masyarakat setempat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....