Menbud Fadli Soroti Eksistensi Profesi Empu Keris di Era Modern

  • 24 Mei 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menbud Fadli menilai profesi empu keris masih bertahan di tengah modernisasi karena tingginya permintaan keris kontemporer di dalam dan luar negeri.
  • Keris karya empu Indonesia dari berbagai daerah telah diekspor ke Malaysia, Eropa, dan sejumlah negara lain dengan jumlah mencapai ribuan setiap tahun.
  • Empu muda asal Malang, Achmad Fulan Mufiddin memilih menekuni dunia perkerisan untuk melestarikan budaya Nusantara dan menjaga profesi empu tetap bertahan di era modern

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyoroti profesi empu keris di Indonesia saat ini. Ia menilai profesi empu keris di Indonesia masih mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Ia mengatakan, para empu keris berasal dari berbagai wilayah, seperti Madura, Jawa, Lombok, Bali, Sulawesi, hingga Sumatera. Ia menilai keberlangsungan profesi tersebut menunjukkan budaya keris masih memiliki daya tarik kuat di masyarakat

Menurutnya, para empu dari berbagai daerah tetap aktif memproduksi keris karena tingginya permintaan pasar. "Kalau saya lihat empu-empu kita dari Madura, Jawa, Lombok, Bali, Sulawesi, Sumatera itu survive," ujarnya kepada wartawan usai acara Peringatan Hari Keris Nasional 2026, Museum Pusaka TMII, Jakarta Timur, Sabtu malam, 23 Mei 2026.

Ia menjelaskan permintaan terhadap keris, khususnya keris kontemporer, saat ini cukup tinggi. Bahkan, menurutnya, keris karya empu masa kini telah dipasarkan hingga ke luar negeri.

Ia menyebut ekspor keris Indonesia ke sejumlah negara tetangga, termasuk Malaysia mencapai ribuan keris setiap tahun. Selain itu, keris kontemporer Indonesia juga mulai diminati pasar Eropa dan beberapa negara lainnya.

"Permintaan untuk keris itu cukup banyak, terutama untuk keris-keris kontemporer. Keris ini dibuat oleh para empu-empu baru," katanya.

Ia berharap perkembangan tersebut dapat terus mendorong keberlangsungan profesi empu keris. Sekaligus memperkuat pelestarian budaya perkerisan Indonesia di tingkat internasional.

Empu keris asal Malang, Achmad Fulan Mufiddin menilai profesi pembuat keris di era modern menjadi pilihan unik. Di tengah modernisasi, profesi empu semakin langka karena membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan pemahaman nilai budaya luhur.

Pemuda berusia 26 tahun asal Jalan Raya Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu memilih menekuni dunia perkerisan. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya melestarikan warisan budaya Nusantara yang mulai jarang diminati generasi muda.

"Saya merasa di Malang Raya, pembuat keris masih sangat jarang. Apalagi yang asli kelahiran Malang," ujarnya.

Minatnya terhadap keris mulai tumbuh sejak usia delapan tahun. Ketertarikannya terhadap benda pusaka tersebut terus berkembang hingga akhirnya pada 2023.

Ia memutuskan belajar langsung di besalen milik K.R.T Arum Fanani Notopuro di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Menurutnya, menjadi empu keris di era modern bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Ia berharap profesi empu tetap bertahan dan dapat diteruskan oleh generasi muda di masa mendatang. "Profesi empu tetap terus ada, khususnya di Malang Raya, jangan sampai hanya menjadi cerita di masa depan," ucapnya.

Ia menilai keris tidak sekadar benda pusaka atau senjata tradisional. Baginya, keris memiliki makna filosofi yang berkaitan dengan doa, harapan, dan nilai kehidupan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....