Mengenal 'Ngertakeun Bumi Lamba', Ritual Adat Sunda Menyatukan Alam dan Manusia

  • 13 Mei 2026 20:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Upacara Ngertakeun Bumi Lamba ke-18 tahun 2026 akan digelar di Gunung Tangkuban Perahu sebagai ritual syukur sekaligus upaya menjaga keseimbangan alam dan persatuan lintas suku, ras, dan agama.
  • Filosofi Ngertakeun Bumi Lamba berakar pada pandangan hidup masyarakat Sunda yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam semesta, sebagaimana tercermin dalam ajaran “Ibu Bumi, Bapak Angkasa” dan nilai harmoni dengan lingkungan.
  • Prosesi upacara mengajarkan kesadaran “nganuhunkeun” atau rasa syukur, sekaligus menegaskan peran manusia sebagai penjaga bumi melalui pelestarian hutan, sumber air, dan ketahanan pangan demi kesejahteraan bersama.

RRI.CO.ID, Jakarta - Upacara Ngertakeun Bumi Lamba ke-18 tahun 2026 akan kembali di gelar di Gunung Tangkuban Perahu, Bandung, Jawa Barat. Acara yang digelar Minggu, 21 Juni 2026 itu bertujuan menyucikan gunung dan menjaga keseimbangan alam sebagai bentuk syukur.

Upacara ritual tahunan ini mengajarkan bahwa bumi adalah titipan, bukan milik manusia. Serta menjadi momen pemersatu antar suku, ras, dan agama di alam terbuka.

Filosofi Ngertakeun Bumi Lamba berangkat dari pandangan hidup masyarakat Sunda. Filosofi ini menempatkan manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam.

Nilai tersebut tercermin dalam berbagai rajah, kidung, dan ajaran leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Ajaran itu menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, seperti apa makna mendalam ritual Ngertakeun Bumi Lamba? Melansir situs resmi Ngertakeun Bumi Lamba berikut adalah makna mendalam pelaksanaan upacara ritualnya.

Manunggal Rasa Dengan Semesta

Dalam salah satu rajah atau kidung tradisi Sunda terdapat ungkapan. Yaitu 'Urang jeung alam taya antarana, mun aya antarana urang rek cicing dimana?'.

Ungkapan tersebut jika diartikan adalah 'Manusia dan alam tidak memiliki batas pemisah'. Pesan tersebut menggambarkan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta, bukan entitas yang berdiri terpisah darinya.

Nilai itu menjadi dasar filosofi Ngertakeun Bumi Lamba yang mengajak manusia hidup selaras dengan lingkungan. Keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta diyakini sebagai jalan menuju keseimbangan hidup.

Mengenal Akar Peradaban Sunda

Dalam konteks ini, peradaban Sunda dipahami sebagai laku hidup yang menjunjung etika, pengetahuan, dan penghormatan terhadap alam. Makna Sunda tidak hanya dipandang sebagai identitas etnis atau wilayah geografis, tetapi juga nilai kehidupan yang menghargai semesta.

Konsep 'Ibu Bumi, Bapak Angkasa' menjadi simbol hubungan manusia dengan alam. Terutama sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat dan dihormati.

Salah satu prosesi dalam upacara adat Sunda Sabuana, Ngertakeun Bumi Lamba. (Foto: Instagram/@panggelar_ngertakeunbumilamba)

Mengenal Raga dan Rasa

Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya kesadaran rasa atau nganuhunkeun yang berarti bersyukur kepada Sang Pencipta. Manusia diyakini sebagai bagian dari perjalanan panjang alam semesta yang mencapai kesempurnaan melalui kesadaran, rasa syukur, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Melalui rasa syukur tersebut, manusia diharapkan mampu mencapai kehidupan yang tenteram, da sejahtera. Ada pun membangun keharmonisan dengan lingkungan sekitarnya.

Menjaga Keseimbangan Alam

Ngertakeun Bumi Lamba turut menegaskan peran manusia sebagai penjaga keseimbangan alam. Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Prabu Siliwangi dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian.

Dalam naskah tersebut ia menekankan pentingnya merawat tempat suci, menjaga hutan, dan sumber air. Hingga memastikan ketahanan pangan masyarakat tetap terjaga.

Kesejahteraan masyarakat diyakini berawal dari cara manusia memperlakukan alam. Karena itu, menjaga kelestarian lingkungan dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan bersama.

Makna Prosesi Upacara Ritual Ngertakeun Bumi Lamba

Upacara Ngertakeun Bumi Lamba akan digelar pada Minggu, 21 Juni 2026 di Gunung Tangkuban Perahu. Ritual yang dilaksanakan pada pukul 8:30 WIB ini merupakan bentuk rasa syukur kepada leluhur, alam, dan Sang Pencipta.

Prosesi upacara mengangkat makna 'mensejahterakan alam semesta' dengan harapan terciptanya lingkungan yang lestari. Adapun tanaman yang subur, sumber air yang terjaga, serta kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Ritual ini juga menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai penjaga bumi. Terutama dalam keberlangsungan kehidupan bersama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....