Inilah Sosok Bunisora Suradipati, Si Pembuat Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

  • 06 Mei 2026 10:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, peninggalan raja Sunda seberat delapan kilogram emas, dikirab keliling Jawa Barat dalam rangka Hari Jadi Tatar Sunda.
  • Mahkota tersebut dibuat oleh Bunisora Suradipati saat mengasuh Niskalawastu Kancana, pasca Perang Bubat yang menewaskan Prabu Lingga Buana.
  • Mahkota Binokasih menjadi simbol legitimasi penobatan raja Sunda dan kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Saat ini tengah berlangsung Kirab Mahkota Binokasih dalam bingkai Ulang Tahun Tatar Sunda. Mahkota Binokasih Sanghyang Pake seberat delapan kilogram emas merupakan peninggalan raja Sunda yang diarak keliling wilayah Jawa Barat.

Dimulai dari Kabupaten Sumedang sebagai bekas Kerajaan Sumedang Larang yang menerima mahkota tersebut dari Kerajaan Sunda Pajajaran. Mahkota kemudian dibawa ke sejumlah wilayah seperti Ciamis, Bogor, Depok, Cianjur, hingga Cirebon.

Dikisahkan, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dibuat oleh seorang raja yang taat beragama. Yang pada masa itu dikenal sebagai Raja Resi, yakni Bunisora Suradipati.

Bunisora sendiri sebenarnya bukanlah yang berhak menerima tahta. Ketika itu di Kerajaan Galuh, dia merupakan seorang patih dan kakaknya, Prabu Lingga Buana adalah Raja Galuh.

Namun, pasca-perang Bubat, dia mau-tidak mau menjadi raja. Sebab Prabu Niskalawastu yang seharusnya menerima tahta, masih kecil.

Sambil mengasuh Niskalawastu, Bunisora menjadi raja (1357-1371). Saat menyiapkan pelantikan Niskalawastu itulah Bunisora membuat Mahkota Sangyang Pake.

Situasi Berkabung di Kerajaan Galuh

Suasana berkabung masih belum pupus dari benak kalangan keluarga Kerajaan Galuh dan masyarakat ketika itu. Sebuah peristiwa yang terjadi di Bubat, sebuah lapangan di dekat alun-alun Kerajaan Majapahit.

Di sana, Raja Sunda bernama Prabu Linggabuana yang masyhur dengan gelar Prabu Wangi terbunuh. Sementara putrinya yang semula akan dinikahkan dengan Raja Hayamwuruk, yaitu Dyah Pitaloka Citraresmi memilih 'moksa' di tempat itu.

Naskah kuno yang memuat runtutan raja-raja Sunda berjudul 'Carita Prahyangan'. Cerita itu menggambarkan peristiwa itu sebagai bencana yang harganya sangat mahal.

"Manak deui Prebu Maharaja, lawasniya ratu tujuh tahun, kena kabawa ku kalawisaya, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung dipipanumbasna."

(Prabu Maharaja, lamanya menjadi ratu tujuh tahun, lantara kena bencana. Terbawa celaka anaknya, nama Tohaan, yang meminta sesuatu yang sangat mahal).

"Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda. Pan prangrang di Majapahit."

(Banyak sekali yang pergi ke Jawa, karena tidak mau bersuami di Sunda. Ya, jadinya perang di Majapahit).

Naskah itu kemudian melanjutkan, ada anak Prabu Wangi yang merupakan anak lelaki dan bakal mewarisi takhta kerajaan. Namanya, Niskalawastu Kencana, meski umurnya masih muda, sudah tampak bahwa dia sosok yang banyak mengerti.

Tetapi, justru karena masih muda itulah, dia sementara waktu 'diasuh' dahulu oleh pamanya sendiri. Yaitu Prabu Bunisora Suradipati.

Bunisora Membuat Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Dalam naskah 'Carita Parahyangan' mahkota ini hanya disebut sebagai Sanghyang Pake. Karena pembuatanya oleh Bunisora sambil mengasuh Niskalawastu Kancana menjadi dewasa dan siap ditahbiskan menjadi raja.

"Batara Guru di Jampang ma, inya nu nyieun ruku Sanghiyang Paké, basa nu wastu dijieun ratu. Beunang nu pakabrata séwaka ka déwata, nu di tiru ogé paké Sanghiyang Indra, rukuta."

(Batara Guru di Jampang, dialah yang membuat mahkota Sanghyang Paké, waktu yang punya hak diangkat menjadi ratu. Hasil tirakat menahan lapar dalam berbakti kepada dewata, yang ditiru itu mahkota yang dipake Sanghyang Indra).

Tetapi, dalam pengasuhan Bunisora Suradipati yang merupakan 'raja-resi'. Niskalawastu Kancana tumbuh menjadi pribadi 'masagi' (matang dalam berbagai pengatahuan).

Sehingga, naskah 'Carita Parahyangan' yang sejatinya membongkar skandal-skandal raja-raja Sunda itu, malah memberikan pujian. Di zaman tersebut, sesepuh kampung enak makan, para resi tentram dalam menjalankan aturan resi, mengamalkan purbatisti-purbajati.

Demikian pula kehidupan secara umum. Hutan dibagi-bagi untuk diolah, tidak ada hal yang sulit.

Mahkota Binokasih dan Palangka Sriman Sriwacana

Jauh sebelum Bunisora Suradipati membuat Mahkota Bimokasih Sanghyang Pake. Model yang dia dapatkan dari hasil tirakat berbakti kepada dewata, raja-raja Sunda ditahbiskan bernama Palangka Sriman Sriwacana.

Dalam 'Carita Parahyangan' diterangkan, Palangka Sriman Sriwacana dibuat oleh Prabu Susuk Tunggal. Dan masih bertahan hingga akhir kerajaan Sunda Pajajaran.

Adanya Mahkota Binokasih Sanghyag Pake dalam perjalanan sejarah Sunda, membuat lengkap piranti penobatan raja. Yaitu, calon raja duduk pada Palangka Sriman Sriwacana dan pada kepalanya dipakaikan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.

Mahkota Binokasih Sanghyang Pake Sekarang Ini

Nonoman Karaton Sumedang Larang (KSL), Rd. Lucky Djohari Soemawilaga mengatakan Mahkota Binokasih tersimpan di museum Prabu Geusan Ulun. Dan mahkota tersebut sangat asli yang merupakan simbol legitimasi bagi kerajaan Sunda.

Lucky melanjutkan, Mahkota Binokasih berasal dari Kerajaan Galuh yang dibuat pada masa Prabu Bunisora. Mahkota tersebut disematkan pertama kali kepada Prabu Niskalawastu Kencana.

Mahkota Binokasih disematkan secara turun temurun dari suksesi raja-raja di Tatar Sunda. Raja-raja tersebut mulai dari Kerajaan Galuh, Kerajaan Sunda, hingga Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda.

Mereka digabungkan menjadi satu kerajaan oleh Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Namanya menjadi Kerajaan Sunda Padjadjaran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....