Beratnya Capai 8 Kilogram, Begini Sejarah Mahkota Binokasih

  • 02 Mei 2026 11:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mahkota seberat 8 kilogram ini dibuat pada masa Kerajaan Galuh oleh Bunisora Suradipati sebagai simbol kasih sayang dan lambang kemaharajaan.
  • Mahkota digunakan oleh raja-raja Galuh, lalu berpindah ke Kerajaan Sunda Padjadjaran, hingga akhirnya diwariskan ke Kerajaan Sumedang Larang.
  • Binokasih Sanghyang Pake mengandung pesan bahwa kasih sayang harus menjadi dasar kehidupan, melahirkan nilai gotong royong, toleransi, dan kebijaksanaan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Mahkota Binokasih merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Sumedang Larang yang kini disimpan di Museum Geusan Ulun. Ternyata mahkota yang terbuat dari emas 8 kilogram itu awalnya dibuat dan dipakai oleh para raja Kerajaan Galuh.

Setelah 448 tahun berlalu, Mahkota Binokasih kembali dibawa ke Tatar Galuh Kabupaten Ciamis. Meski sementara dikemas dalam bentuk kirab, namun hal tersebut membuktikan bahwa Mahkota Binokasih dari Ciamis.

Lalu bagaimana cerita Mahkota Binokasih yang dibuat di Galuh kemudian sampai ada di Sumedang? Melansir dari situs resmi pemerintah kabupaten Sumedang, simak ulasannya!

Mahkota Binokasih dibuat diprakarsai Bunisora Suradipati Raja Kerajaan Galuh (1357-1371), saat itu Bunisora memimpin Kerajaan Galuh menggantikan keponakannya. Niskala Wastu Kancana yang pada saat itu masih berusia 7 tahun ketika ditinggal ayahnya Linggabuana yang gugur saat Bubat.

"Pada saat Linggabuana gugur, otomatis anaknya Eyang Wastu Kancana yang menjadi penerusnya. Namun pada saat itu usinya masih 7 tahun, otomatis pemerintahan Kerajaan Galuh dipimpin oleh pamannya yang merupakan adik Linggabuana, yakni Bunisora," ujar Budayawan Ciamis Aip Syaripudin dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Sabtu, 1 Mei 2026.

Pada saat itu, sebagai salah satu persiapan menyambut keponakannya memimpin Kerajaan Galuh pada saat dewasa. Bunisora Suradipati pun membuat mahkota yang terbuat dari emas dengan berat sekitar 8 kilogram.

Mahkota itu diberi nama Binokasih sebagai simbol kasih sayang dan lambang kemaharajaan. Setelah siap memimpin, Mahkota Binokasih pun pertama kali dipakai oleh Niskala Wastu Kancana pada saat pelantikan Raja Galuh.

Kemudian, pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, ia menyatukan Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda menjadi Kerajaan Sunda Padjadjaran. Awalnya ibu kota Kerajaan Galuh di Kawali Ciamis, dipindahkan ke Bogor.

Mahkota Binokasih pun turut dibawa, dan estafet kepemimpinan Kerajaan Padjadjaran pun terus berlanjut hingga puluhan tahun. "Setelah lama berjaya akhirnya Kerajaan Padjadjaran pun Burak (bubar) karena serangan Demak Dan Cirebon," ucapnya.

Kemudian Mahkota Binokasih itu diberikan kepada Gesan Ulun Raja Kerajaan Sumedang Larang. Pada masa itu Kerajaan Sumedang Larang sedang eksis dan diketahui ada empat orang urusan yang membawa mahkota tersebut.

Diketahui, empat orang tersebut adalah Senapati Kerajaan yakni Eyang Jaya Prakasa, dan Eyang Nanganan. Adapun Eyang Kondang Hapa dan Eyang Terong Peot.

Ada banyak pertimbangan mahkota itu diserahkan dari Kerajaan Padjadjaran ke Sumedang Larang. Menurutnya, Gesan Ulun masih memiliki keturunan dari leluhur Galuh.

"Jadi tidak akan ada Sumedang Larang kalau tidak ada Kerajaan Galuh. Tidak ada Galuh kalau tidak ada Tarumanagara, begitu juga Tarumanagara tidak akan ada kalau tidak ada Kerajaan Salakanagara," ucapnya.

Sementara itu, Radya Anom Karaton Sumedang Larang Luky Djohari Soemawilaya menjelaskan makna yang terkandung di dalam mahkota tersebut. Ia mengatakan bahwa mahkota tersebut memiliki sebutan lengkap Binokasih Sanghyang Pake.

Binokasih, kata dia, berarti kasih sayang, sedangkan sanghyang pake artinya dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, nama Binokasih Sanghyang Pake mengandung makna kasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kasih sayang harus dijadikan sumber tindakan. Karena dari kasih sayang melahirkan nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, adil dan bijaksana," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....