Mengenal Keris Bali, Warisan Budaya dan Keindahannya
- 19 Apr 2026 14:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Keris Nasional (19 April) menjadi momentum refleksi nilai budaya keris yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
- Keris berkembang dari Jawa ke Nusantara, termasuk Bali, dengan ragam bentuk, filosofi, dan fungsi sebagai simbol identitas, spiritualitas, serta karya seni.
- Pelestarian keris perlu diperkuat karena memiliki nilai sakral, estetika (eksoterisme–esoterisme), dan menjadi pedoman hidup lintas generasi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap tahunnya, Indonesia merayakan Hari Keris Nasional yang jatuh setiap tanggal 19 April. Perayaan ini merupakan sebuah momentum untuk merefleksikan makna keris dalam kehidupan budaya masyarakat Indonesia.
Keris tidak hanya dikenal sebagai benda pusaka, tetapi juga sebagai simbol identitas, spiritualitas, dan karya seni bernilai tinggi. Pengakuan dunia melalui UNESCO menegaskan keris merupakan bagian dari Warisan Budaya Takbenda yang memiliki nilai universal.
Dalam perkembangannya, begitu banyak keris yang tersebar di wilayah Pulau Jawa termasuk Bali. Keris bali menampilkan kekayaan bentuk, ukiran, dan filosofi.
Ukuran tersebut mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai kehidupan. Setiap detailnya mengandung makna yang diwariskan lintas generasi.
Melalui peringatan ini, upaya pelestarian keris diharapkan terus diperkuat. Agar warisan budaya tersebut tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.
Mengacu pada buku Taksu: Keris Bali karya Fadli Zon, data arkeologis menunjukkan bahwa budaya keris berawal dari Jawa. Lalu menyebar luas ke seluruh Nusantara.
Proses ini melahirkan beragam gaya dan corak keris yang menyesuaikan dengan adat serta budaya masyarakat setempat. Bagi masyarakat Bali, keris merupakan karya budaya yang dijaga secara utuh, baik dari sisi bendawi (tangible) maupun non-bendawi (intangible).
Selain sebagai benda pusaka, keris juga memiliki nilai kesakralan yang dimanifestasikan dalam harapan, doa, serta nilai-nilai luhur. Karena itu, keris tidak hanya dipandang sebagai objek yang indah, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang sarat makna.
Dalam kehidupan masyarakat, keris Bali memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai bagian dari upacara adat dan ritual. Simbol status dan identitas, pusaka yang dihormati, karya seni bernilai estetika, serta simbol nilai spiritual.
Dari sisi estetika, keindahan keris dapat dilihat melalui dua dimensi. Pertama, keindahan visual (eksoterisme) yang tampak pada bentuk, material logam, teknik penempaan, serta detail pengerjaan.
Kedua, keindahan spiritual (esoterisme) yang berkaitan dengan nilai kepercayaan dan falsafah hidup. Dalam budaya Bali, dimensi spiritual keris sangat kuat, dipercaya sakral, mengandung ajaran hidup, serta penghubung manusia dengan Tuhan.
Melalui peringatan Hari Keris Nasional, upaya pelestarian warisan budaya ini diharapkan terus diperkuat. Hal ini dilakukan agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....