Asal Usul Tradisi Telur Paskah dari Simbol Kehidupan hingga Perburuan Telur

  • 04 Apr 2026 09:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Telur Paskah berasal dari simbol kehidupan baru dalam tradisi pra-Kristen yang kemudian diadopsi sebagai lambang kebangkitan Yesus Kristus
  • Pada abad pertengahan, telur menjadi bagian penting perayaan Paskah setelah masa puasa, termasuk sebagai makanan utama dan persembahan
  • Tradisi berburu telur dan kemunculan Kelinci Paskah berasal dari Jerman, berkembang menjadi aktivitas populer dalam perayaan modern

RRI.CO.ID, Jakarta – Tradisi telur Paskah memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan simbol kehidupan baru dan kebangkitan dalam berbagai budaya. Praktik ini berkembang dari kepercayaan kuno hingga menjadi bagian penting dalam perayaan Paskah umat Kristen di seluruh dunia.

Dilansir dari laman English Heritage, dalam banyak masyarakat pra-Kristen, telur memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan musim semi dan kehidupan baru. Telur dipandang sebagai lambang kesuburan serta awal kehidupan, terutama saat alam kembali berkembang setelah musim dingin panjang.

Umat Kristen awal kemudian mengadopsi makna tersebut dengan menjadikan telur sebagai simbol kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Cangkang telur yang kosong dimaknai sebagai metafora makam Yesus yang ditemukan kosong setelah peristiwa kebangkitan terjadi.

Pada periode abad pertengahan, konsumsi telur dilarang selama masa Prapaskah yang berlangsung selama empat puluh hari sebelum Paskah. Larangan ini merupakan bagian dari praktik puasa dan pengendalian diri yang dijalankan umat sebagai bentuk penghayatan spiritual.

Saat Hari Minggu Paskah tiba, masa puasa berakhir dengan perayaan meriah yang melibatkan berbagai hidangan termasuk telur sebagai makanan utama. Hal ini terutama penting bagi masyarakat kurang mampu yang tidak memiliki akses terhadap daging sebagai sumber makanan utama.

Selain dikonsumsi, telur juga memiliki peran dalam tradisi keagamaan dan sosial pada masa tersebut di berbagai wilayah Eropa. Masyarakat sering memberikan telur kepada gereja pada Jumat Agung serta menghadiahkannya kepada tuan tanah sebagai bentuk penghormatan.

Keterlibatan kalangan kerajaan turut memperkuat tradisi ini, termasuk praktik menghias telur dengan warna atau lapisan emas sebagai simbol kemewahan. Pada tahun 1290, Raja Edward I tercatat membeli ratusan telur untuk dihias sebelum dibagikan kepada anggota rumah tangganya.

Tradisi berburu telur Paskah diketahui berasal dari Jerman dan kemudian menyebar ke berbagai negara di dunia. Kebiasaan ini menjadi salah satu aktivitas yang paling dinantikan anak-anak dalam rangkaian perayaan Paskah modern.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa tradisi ini bermula pada akhir abad ke-16 melalui inisiatif reformator Protestan Martin Luther. Dalam praktiknya, para pria menyembunyikan telur untuk kemudian dicari oleh perempuan dan anak-anak sebagai bagian dari perayaan.

Tradisi tersebut juga berkaitan dengan kisah kebangkitan Yesus, ketika makam kosong pertama kali ditemukan oleh para perempuan. Dalam perkembangan selanjutnya, tradisi ini terhubung dengan sosok Kelinci Paskah yang dipercaya membawa dan menyembunyikan telur berwarna bagi anak-anak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....