Mengapa Salib dan Patung di Gereja Ditutup Menjelang Paskah? Begini Penjelasannya

  • 02 Apr 2026 14:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tradisi menutup salib dan patung dengan kain ungu dalam Gereja Katolik dilakukan sejak Minggu Prapaskah Kelima hingga Sabtu Suci sebagai simbol duka dan fokus pada sengsara Yesus Kristus.
  • Praktik ini memiliki dasar liturgi dan biblis, serta telah ada sejak abad ke-9 di Jerman, kemudian diatur dalam Misale Romanum dengan waktu pelaksanaan yang dapat bervariasi.
  • Penutupan simbol-simbol gereja bertujuan membantu umat lebih khusyuk, menjauh dari hal duniawi, dan mendalami makna penebusan Kristus menjelang Paskah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ada tradisi lama di Gereja Katolik untuk menutup semua salib, patung, dan gambar dengan kain ungu. Penutupan ini dilakukan dari dua hari Minggu Prapaskah ke-V sebelum Paskah hingga Sabtu Suci.

Berdasarkan kalender liturgi lama, sebelum reformasi Vatikan II pada tahun 1964. Minggu Prapaskah Kelima disebut Minggu Sengsara, tepatnya pada, satu minggu sebelum Minggu Palma.

Dasar biblis untuk tindakan ini mengacu pada kata-kata penutup Injil hari Minggu. "Mereka mengambil batu untuk dilemparkan ke arahnya, tetapi Yesus bersembunyi dan keluar dari Bait Suci" (Yohanes 8:59).

Dalam Misale Romanum dinyatakan dalam sebuah catatan tentang hari Sabtu Minggu kelima Prapaskah, bahwa tradisi ini boleh dipatuhi. Di mana selubung yang menutupi patung dan salib dapat terus dilakukan hingga dimulainya Malam Paskah.

Dalam Misale Romanum tahun 2011 yang diperbarui: praktik menutup salib dan gambar di seluruh gereja. Hal itu mulai pada Minggu Prapaskah Kelima. Salib tetap ditutupi sampai akhir perayaan Sengsara Tuhan pada Jumat Agung.

Namun, lama waktu penutupan ini bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Kebiasaan di banyak tempat dimulai sebelum vesper pertama atau Misa Minggu Prapaskah Kelima.

Sementara di tempat lain kadang ada yang baru menutup patung dan salib pada Misa Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih. Di beberapa tempat, salib dan patung dihilangkan dari gereja dan tidak sebatas diselubungi begitu saja.

Penutup salib dan patung ini biasanya terbuat dari kain berwarna ungu muda tanpa hiasan apapun. Kebiasaan menyelubungi gambar-gambar selama dua minggu terakhir masa Prapaskah berasal dari kalender liturgi sebelumnya saat Kisah Sengsara dibacakan.

Serta pada Minggu Palma, Selasa dan Rabu tanggal Pekan Suci, dan Jumat Agung. Oleh karena itu, periode setelah Minggu Prapaskah Kelima disebut Masa Sengsara.

Tradisi ini sangat dianjurkan terkait “psikologi agama” di mana langkah ini membantu umat untuk berkonsentrasi. Terutama pada hal-hal penting dalam karya Penebusan Kristus.

Tradisi ini sudah dimulai di Jerman sejak abad kesembilan. Saat itu, umat membentangkan kain besar di depan altar sejak awal masa Prapaskah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....