Penuh dengan Makna, Simak Sejarah Lampion dalam Tradisi Imlek

  • 16 Feb 2026 13:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Saat perayaan Imlek, lampion atau lentera menghiasi sudut kota hingga kelenteng. Warna merah dan kuning paling dominan, meski kini hadir desain modern beragam warna.

Melansir Top China Travel, lampion pertama kali dibuat pada Dinasti Han Barat sekitar 202 SM hingga 8 M. Awalnya berbentuk dudukan lampu perunggu yang digunakan sebagai penerangan kalangan bangsawan kerajaan.

Pada masa Dinasti Han Timur (25–220 M), lentera kertas mulai dikenal luas masyarakat. Mulanya, lampion kertas dipakai sebagai penutup lampu sekaligus sarana pemujaan Buddha di kuil.

Penggunaannya dipopulerkan Kaisar Mingdi sekitar tahun 57 Masehi dengan menyalakan lentera di istana. Penyalaan dilakukan pada hari ke-15 bulan lunar pertama yang kemudian dikenal sebagai Festival Lentera.

Seiring waktu, fungsi lampion meluas dari ritual keagamaan menjadi simbol perayaan. Pada Dinasti Tang (618–907 M), warga bahkan melepaskan lentera ke langit sebagai tanda kejayaan negara.

Praktik tersebut berkembang menjadi tradisi akhir rangkaian Tahun Baru Imlek atau Cap Go Meh. Puncak perayaan juga diramaikan santap tang yuan, bola ketan berisi pasta wijen bersama keluarga.

Karakteristik Lampion China

Lampion telah bertahan lebih dari 1.800 tahun dan memuat nilai budaya mendalam. Proses pembuatannya menggabungkan seni lukis, pemotongan kertas, bordir, hingga teknik pencahayaan tradisional.

Kerangkanya umumnya dibuat dari bambu, kayu, rotan, jerami, logam, atau kain sutra. Setiap bahan dipilih bukan sekadar estetika, tetapi juga menyesuaikan fungsi serta makna simbolisnya.

Menurut China Highlight, warna lampion memiliki arti berbeda dalam tradisi Tionghoa.

  • Lampion kuning di kuil melambangkan ketenangan dan kedamaian spiritual.
  • Lampion merah melambangkan kekayaan, ketenaran, dan kemakmuran dalam perayaan maupun pernikahan.
  • Lampion putih dikaitkan dengan suasana duka atau pemakaman.
  • Lampion hijau sering muncul saat Festival Lentera dengan makna kesehatan dan keharmonisan.

Selain warna, bentuk lampion tradisional umumnya melingkar menyerupai bulan purnama. Bentuk ini melambangkan keutuhan, persatuan, dan kebersamaan keluarga.

Bentuk Lampion yang Populer

Lampion tradisional terbagi dalam lima kategori utama yang berkembang turun-temurun. Di antaranya lampion istana, kain kasa, bambu, nama keluarga, dan lampion gantung.

Bentuknya bervariasi, mulai dari figur manusia hingga bunga dan hewan simbolis. Salah satu yang terkenal adalah lentera Zou Ma Deng dengan hiasan kuda berputar di dalamnya.

Lentera istana Beijing atau Gong Deng dahulu digantung di lingkungan kerajaan. Kerangkanya terbuat dari kayu tipis lalu dilapisi kain dan kaca sebagai pelindung cahaya.

Sementara lentera bergaya Suzhou berkembang sejak awal Dinasti Song. Ciri khasnya warna lembut dengan ornamen burung, bunga, paviliun, hingga lanskap pedesaan.

Lampion dan Perayaan Imlek

Dalam perayaan Imlek, lampion umumnya berbentuk bundar dan berwarna merah menyala. Desainnya dihiasi karakter keberuntungan serta pola yang sarat doa kebaikan.

Aturan pentingnya, lampion digantung berpasangan atau berjumlah genap sebagai simbol keseimbangan. Melansir China Fetching, penempatan di sisi selatan rumah dipercaya membawa energi positif.

Kombinasi bentuk, warna, dan posisi menggantungkan lampion mengandung filosofi mendalam. Unsur-unsur itu diyakini menghadirkan harapan akan kekayaan, ketenaran, serta kemakmuran pada tahun baru.

Kini, lampion tak hanya hadir di istana atau kuil, tetapi juga pusat perbelanjaan dan rumah warga. Tradisi lama tetap hidup, menyala, dan terus beradaptasi dengan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....