Gau Maraja Usai, Tantangan Pelestarian Budaya Berlanjut
- 06 Okt 2026 11:19 WIB
- Bone
RRI.CO.ID,Bone — Berakhirnya Gau Maraja 2026 tidak serta-merta mengakhiri upaya pelestarian budaya di Kabupaten Bone. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan, nilai dan sejarah yang diperkenalkan selama enam hari kegiatan dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Budayawan Bone, Dr. H. Andi Youshand Latenritappu mengatakan, festival budaya memang penting sebagai sarana memperkenalkan kembali tradisi kepada masyarakat. Namun, pelestarian tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial karena budaya akan tetap hidup apabila nilai-nilainya dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat menjalankan berbagai tradisi. Sejumlah praktik yang dahulu dilakukan dengan cara tertentu kini mengalami penyesuaian karena kondisi kehidupan masyarakat sudah berbeda.
“Pelaksanaan acara ini dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi. Tentu semua yang ada di wilayah Bone ini tidak diperlihatkan seperti dulu, karena teknologi sudah maju,” jelas Andi Youshand Saat dikonfirmasi pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Ia mencontohkan tradisi yang berkaitan dengan pertanian. Pada masa lampau, masyarakat memiliki berbagai kepercayaan dan tata cara dalam mengolah serta menanam padi. Seiring berkembangnya teknologi pertanian, cara tersebut berubah dengan hadirnya pupuk, traktor, bibit unggul dan berbagai teknologi lainnya.
“Dulu belum ada teknologi seperti ini, jadi orang-orang dulu masih percaya yang mistik. Kalau kita mau menanam padi, tidak harus membaca bagaimana turunnya padi menjadi padi dan ditanam di bumi,” katanya.
Meski terjadi perubahan, Andi Youshand menegaskan bahwa masyarakat tetap perlu mengetahui sejarah dan filosofi yang berada di balik tradisi tersebut. Menurutnya, pengetahuan mengenai masa lalu penting agar generasi sekarang dapat memahami perjalanan budaya hingga mencapai bentuknya seperti saat ini.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan budaya di sekolah. Menurutnya, penguatan muatan lokal dan penyediaan bahan bacaan mengenai sejarah serta budaya Bone dapat membantu anak-anak mengenal warisan daerah sejak usia dini. Pendidikan tersebut dapat dilengkapi dengan kegiatan nonformal berupa pelatihan dan pertemuan budaya di tengah masyarakat.
“Ini tugasnya Dinas Pendidikan untuk menjadi taman bacaan di sekolah-sekolah. Mulai anak-anak SD, SMP, SMA itu mempelajari melalui taman bacaan mereka dapat mengerti,” ujarnya.
Selain sekolah, ia menilai pemerintah perlu memfasilitasi pelestarian budaya dengan melibatkan orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang budaya dan sejarah. Pelatihan juga perlu diperluas hingga kecamatan dan desa agar pengetahuan budaya tidak hanya tersimpan pada kelompok tertentu.
Gau Maraja 2026 yang berlangsung selama enam hari mencatat lebih dari 800 penampilan, melibatkan lebih dari 150 pegiat dan tenant UMKM, serta menarik lebih dari 50 ribu pengunjung. Besarnya kegiatan tersebut menjadi modal untuk melanjutkan pelestarian budaya, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga nilai budaya setelah festival berakhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....