Orkestra Santri Al Ikhlas Tembus Panggung Nasional
- 11 Mei 2026 18:41 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone — Founder Orkestra Santri Al-Ikhlas Ujung, Dr. Sn. Ichsan, S.Pd., M.Sn., mengungkapkan bahwa membangun orkestra di lingkungan pesantren bukan sekadar mengajarkan musik, tetapi juga membentuk rasa kebersamaan, disiplin, dan toleransi melalui seni. Hal itu disampaikannya dalam program Bincang Siang RRI Bone, Senin 11 Mei 2026.
Menurut Ichsan, tantangan terbesar dalam membina orkestra santri adalah menghadirkan budaya baru di lingkungan pondok pesantren. Suara alat musik seperti saksofon, terompet, hingga perkusi awalnya menjadi sesuatu yang asing bagi sebagian lingkungan pondok. “Ini budaya baru bagi pondok. Tantangan utamanya bagaimana menghadirkan musik tanpa menimbulkan ketersinggungan dan tetap menghargai kultur pesantren,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Orkestra Santri Al-Ikhlas kini menjadi salah satu orkestra pesantren yang menghadirkan santriwati dalam satu wadah pembinaan seni. Menurutnya, membina santriwati memiliki tantangan tersendiri, mulai dari pendekatan emosional hingga metode pengajaran yang berbeda. “Kami tidak bisa keras, harus menghadirkan semangat dan pendekatan rasa. Bahkan mengajarkan teknik penjarian pun harus memakai metode khusus karena ada batasan interaksi,” katanya.
Dalam disertasinya, Ichsan mengembangkan konsep “pedagogi rasa” yang kini diterapkannya dalam proses pembinaan orkestra. Ia menilai pendidikan tidak cukup hanya dengan teori dan disiplin, tetapi juga harus mampu menghadirkan “sumange” di hati peserta didik. “Ketika rasa sudah tidak bisa diakomodasi bahasa, di situlah semangat hadir. Kalau orang sudah punya semangat, dia akan datang, belajar, dan mengulang pengalaman itu dengan senang,” ucapnya.
Orkestra Santri Al-Ikhlas sendiri telah berkembang pesat dalam 22 bulan terakhir. Setelah menjalani latihan selama 14 bulan, mereka tampil perdana pada ajang Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional di Kabupaten Wajo. Selain itu, mereka juga tampil pada peringatan Hari Santri Nasional di Jakarta, konser lintas agama, hingga pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Sul-Sel 2026.
Tidak hanya membangun kemampuan bermusik, Ichsan juga membentuk sistem manajerial dalam orkestra yang melibatkan lebih dari 124 orang, termasuk kru, pembina, dan paduan suara lintas agama. Menurutnya, seni memiliki kekuatan untuk mengikat manusia dalam ruang dan waktu sehingga melahirkan rasa kebersamaan. “Ketika seni sudah mengikat dalam ruang dan waktu, akhirnya kata saya berubah menjadi kami, lalu menjadi kita,” tuturnya.
Kini, Orkestra Santri Al-Ikhlas mulai dikenal luas masyarakat dan beberapa kali menerima undangan tampil di berbagai kegiatan. Meski para santri sudah mulai memperoleh honor dari penampilan mereka, Ichsan menegaskan bahwa hal terpenting adalah pengalaman, pembelajaran, dan nilai kebersamaan yang tumbuh melalui musik di lingkungan pesantren.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....