Gadget dan Bullying Jadi Ancaman Pendidikan

  • 04 Feb 2026 16:24 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone – Kecanduan gadget dan praktik bullying atau perundungan menjadi dua persoalan serius yang kini marak terjadi di dunia pendidikan. Fenomena ini juga menjadi perhatian utama Yayasan Asshiddiq Peduli Umat melalui unit pendidikan PGIT, TKIT, SDIT, dan SMP Islam Asshiddiq.

Berdasarkan hasil assessment yang dilakukan pihak yayasan, ditemukan banyak siswa menunjukkan gejala kelelahan saat belajar, seperti lemas, mengantuk, kurang ceria, dan sulit fokus di kelas. Kondisi tersebut bukan tanpa sebab, melainkan dipicu kebiasaan bermain handphone hingga larut malam tanpa pengawasan orang tua.

Ketua Yayasan Asshiddiq Peduli Umat, Ismail, S.Pd.I, mengatakan kecanduan gadget pada anak saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. “Kami menemukan fakta di lapangan, banyak anak bermain handphone sampai tengah malam, sehingga keesokan harinya datang ke sekolah dalam kondisi lelah, mengantuk, dan tidak siap menerima pelajaran,” ujarnya saat menjadi narasumber Bincang Siang RRI Bone, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, kebiasaan tersebut berdampak langsung pada kesehatan fisik, kestabilan emosi, hingga prestasi belajar siswa. Anak menjadi kurang fokus, mudah tersinggung, dan kehilangan semangat belajar jika dibiarkan tanpa pendampingan dan pengawasan yang memadai dari orang tua.

Selain adiksi gadget, kasus bullying juga menjadi perhatian serius Yayasan Asshiddiq. Bentuk perundungan yang ditemukan beragam, mulai dari mengganggu teman, perilaku iseng berlebihan, hingga tindakan fisik seperti memukul. Setiap perilaku tersebut dipantau secara cermat untuk memastikan apakah bersifat sesaat atau dilakukan berulang kali sehingga memerlukan penanganan khusus.

Untuk menangani persoalan tersebut, yayasan melakukan proses pendataan dan pendampingan secara menyeluruh. Sekolah tidak hanya mencatat gejala yang tampak di kelas, tetapi juga menggali akar persoalan melalui assessment psikologis yang terukur, dengan menyiapkan guru Bimbingan Konseling (BK) berkualifikasi sarjana hingga magister psikologi.

Ismail menambahkan, tantangan yang kerap dihadapi adalah penolakan sebagian orang tua terhadap hasil assessment yang disampaikan sekolah. “Padahal kami tidak sedang menghakimi, tetapi ingin menyampaikan kondisi riil anak agar bisa ditangani bersama. Tujuan kami semata-mata demi tumbuh kembang siswa yang lebih baik, baik secara akademik maupun psikologis,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....