Sekolah Rakyat Terintegrasi 61 Bone Jaring Siswa lewat Penjangkauan Langsung

  • 10 Jun 2026 13:41 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Menyambut tahun ajaran baru 2026/2027, Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 61 Bone menerapkan sistem penerimaan murid baru yang berbeda dari sekolah reguler pada umumnya. Jika sekolah umum membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara terbuka dan daring (online), Sekolah Rakyat Bone justru menjaring langsung calon siswa dari basis data keluarga miskin ekstrem.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 61 Bone, Resky Januarty, menjelaskan bahwa sistem yang diterapkan di sekolahnya mengutamakan asas penjangkauan langsung untuk memastikan bantuan pendidikan jatuh ke tangan yang tepat. "Kalau di Sekolah Rakyat itu sistemnya berbeda dengan sekolah reguler. Jika sekolah reguler orang tua atau calon peserta didik yang datang mendaftar, nah kalau di kami itu penjangkauan langsung ke lapangan," ujar Resky saat diwawancarai, Selasa 9 Juni 2026.

Resky menguraikan bahwa proses penjaringan ini tidak dilakukan secara acak, melainkan menggunakan data resmi pemerintah yang terverifikasi secara ketat. Pihak sekolah memanfaatkan data pre-list Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Sosial (Kemensos).

Data tersebut kemudian diturunkan kepada para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan Dinas Sosial setempat untuk divalidasi ulang di lapangan. "Rekan-rekan pendamping PKH yang kemudian melakukan cross-check langsung ke lapangan. Dari hasil *mcross-check itu, disesuaikan lagi dengan kriteria yang masuk Desil 1 dan Desil 2, yaitu kategori masyarakat miskin dan miskin ekstrem," jelasnya.

Selain faktor ekonomi yang menjadi indikator utama, pihak Sekolah Rakyat Terintegrasi 61 Bone juga sangat memperhatikan kesiapan mental anak serta restu dari pihak keluarga sebelum memasukkan mereka ke dalam basis data sekolah. "Kalau anaknya memang juga berminat dan orang tuanya menyetujui, maka calon siswa tersebut akan masuk ke database Sekolah Rakyat," tutur Resky.

Dengan metode jemput bola ini, Resky menegaskan bahwa masyarakat yang menjadi sasaran program ini tidak perlu lagi dipusingkan dengan urusan birokrasi pendaftaran atau kewajiban membawa tumpukan berkas fisik ke sekolah."Jadi tidak ada sistem di mana orang tua atau calon peserta didik datang ke sekolah kami membawa berkas, tidak seperti itu. Kami langsung menjaring calon siswanya berbasis data keluarga miskin," jelasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....