BMKG Jelaskan Prediksi Kemarau dan Fenomena El Niño di Bogor
- 23 Apr 2026 14:21 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di wilayah Kabupaten dan Kota Bogor akan terjadi pada bulan Juni 2026. Periode tersebut diperkirakan berlangsung pada dasarian pertama hingga dasarian kedua.
Prakirawan BMKG Jawa Barat Wilayah Bogor, Intan Sakti Auladiah, menjelaskan wilayah Bogor memiliki karakteristik iklim berbeda dibanding daerah lain. Bogor termasuk wilayah dengan tipe satu musim yang tidak memiliki perbedaan tegas antara musim hujan dan kemarau.
“Wilayah Bogor termasuk tipe satu musim, sehingga sepanjang tahun masih berpotensi terjadi hujan. Secara klimatologis, perbedaan musim tidak terlalu jelas,” jelasnya dalam Bogor Pagi ini edisi Kamis, 23 April 2026.
Ia menjelaskan, dalam definisi BMKG, musim kemarau ditandai dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter dalam satu dasarian. Kondisi tersebut harus berlangsung selama tiga dasarian berturut-turut.
“Jika dalam satu bulan total curah hujan kurang dari 150 milimeter, maka itu masuk kategori musim kemarau. Namun di Bogor, rata-rata curah hujan masih di atas angka tersebut,” katanya.
Terkait istilah El Niño Godzilla yang beredar di masyarakat, Intan menegaskan hal tersebut bukan istilah resmi dari BMKG. Istilah tersebut hanya digunakan secara populer untuk menggambarkan El Niño yang sangat kuat.
“BMKG tidak pernah mengeluarkan istilah El Niño Godzilla. Kami hanya mengenal kategori El Niño lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat,” ucapnya.
Berdasarkan analisis terkini, kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral. Namun, terdapat potensi El Niño dengan intensitas lemah hingga sedang yang diperkirakan muncul pada pertengahan tahun.
“Kalaupun terjadi, El Niño diperkirakan muncul sekitar Juni dengan intensitas lemah hingga sedang. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan,” tuturnya.
Ia menambahkan, fenomena El Niño dapat menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia. Dampaknya antara lain peningkatan suhu udara serta meningkatnya risiko kebakaran akibat kondisi yang lebih kering.
“Dampaknya bisa dirasakan hingga tingkat lokal, termasuk peningkatan suhu dan potensi kebakaran. Namun semua masih dalam kategori yang perlu diwaspadai, bukan ditakuti,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Edukasi yang tepat dinilai penting untuk menghadapi perubahan iklim secara bijak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....