Kultum Ramadan : Menangis karena Takut dan Cinta Kepada Allah

  • 19 Mar 2026 21:29 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Kultum Ramadan yang disiarkan dari PRO1 RRI Bogor pada Kamis, 19 Maret 2026, menghadirkan pesan yang menggugah hati. K.H. Muhtadin MS mengajak umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan bulan suci Ramadan, terutama dalam hal memohon ampunan kepada Allah SWT dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan momen istimewa yang sarat dengan ampunan. Namun, kesempatan tersebut bisa menjadi sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Ia mengingatkan tentang peringatan keras bagi mereka yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan pengampunan dosa.

Menurutnya, banyak umat masih menjalankan ibadah secara formalitas tanpa penghayatan. Padahal, esensi ibadah terletak pada kehadiran hati dan kesadaran diri sebagai hamba yang penuh kekurangan. Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan penyesalan mendalam.

Salah satu bentuk penyesalan itu, lanjutnya, adalah melalui tangisan di hadapan Allah. Air mata bukan sekadar emosi, melainkan simbol ketulusan dan pengakuan atas dosa yang telah dilakukan. Ia bahkan menyampaikan bahwa jika belum mampu menangis, umat dianjurkan untuk berusaha menghadirkan rasa haru sebagai latihan kepekaan hati.

Tak hanya itu, ia juga menggarisbawahi pentingnya memperbanyak istighfar selama Ramadan. Permohonan ampun ini diyakini tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga membuka pintu keberkahan, termasuk rezeki yang melimpah.

Doa yang dianjurkan, seperti permohonan ampun kepada Allah Yang Maha Pemaaf, disebut sebagai kunci untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, doa tersebut harus diiringi dengan penghayatan mendalam dan kesungguhan hati.

Di akhir tausiyahnya, K.H. Muhtadin mengajak umat untuk memaksimalkan sisa waktu Ramadan. Ia menekankan bahwa bulan suci ini adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang kembali dalam kondisi yang sama.

Pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang refleksi untuk kembali memperbaiki diri—dengan istighfar, doa, dan air mata taubat sebagai jembatan menuju ampunan Ilahi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....