Ramadan Menjadi Momentum Taubat yang Tulus di Bulan Pengampunan
- 03 Mar 2026 14:38 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Bulan Ramadan kembali diingatkan sebagai momentum emas untuk memperbaiki diri dan meraih ampunan Allah SWT. Dalam tausiyahnya di siaran Kultum Ramadhan PRO1 RRI Bogor, Senin sore, 2 Maret 2026, Ustadz Ahmad Syaichu, Lc. menekankan pentingnya memanfaatkan Ramadan sebagai ruang taubat yang sungguh-sungguh, bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan.
Ia mengawali kajiannya dengan mengisahkan hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani tentang peristiwa ketika Muhammad menaiki mimbar dan mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga. Peristiwa itu terjadi setelah Jibril menyampaikan doa yang berisi peringatan keras bagi siapa saja yang menjumpai Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan.
“Celakalah seseorang yang bertemu dengan bulan Ramadan tapi dosanya tidak diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” demikian doa yang diaminkan oleh Rasulullah sebagaimana dijelaskan dalam tausiyah tersebut.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan. Ustadz Ahmad Syaichu menjelaskan, bahwa Ramadan dikenal sebagai Syahrul Maghfirah, bulan pengampunan. Ia mengajak umat Islam untuk menjadikan bulan ini sebagai momen evaluasi diri atas kesalahan selama sebelas bulan terakhir.
“Ini kesempatan besar untuk kita bertaubat benar-benar sungguh-sungguh kepada Allah atas semua salah dan dosa yang pernah kita lakukan,” ujarnya.
Secara bahasa, Ramadan berasal dari kata Ar-Ramadh yang berarti panas yang membakar. Makna ini mengandung filosofi bahwa amal saleh dan taubat yang tulus mampu “membakar” dosa-dosa seorang hamba. Dengan memperbanyak ibadah, sedekah, serta memperkuat hubungan dengan Allah, seorang Muslim memiliki peluang besar untuk kembali bersih.
Dalam tausiyahnya, ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak zikir dan doa. Salah satu zikir yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah berbunyi, “Asyhadu alla ilaha illallah, astaghfirullah, as’alukal jannata wa a’udzu bika minan naar.” Bacaan istighfar di dalamnya menjadi bentuk pengakuan atas dosa sekaligus permohonan ampun.
Khusus pada sepuluh malam terakhir Ramadan, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, terutama doa memohon kemaafan. “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni,” menjadi doa yang dianjurkan untuk terus dipanjatkan.
Menutup tausiyahnya, Ustadz Ahmad Syaichu mengingatkan bahwa setiap siang dan malam Ramadan adalah peluang pembebasan dari api neraka. Karena itu, taubat yang tulus, amal saleh yang konsisten, serta kesungguhan memperbaiki diri menjadi kunci agar Ramadan benar-benar menjadi bulan pengampunan yang membawa perubahan nyata dalam kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....