Puasa Ramadan, Terapi Alami untuk Kesehatan Mental

  • 25 Feb 2026 21:47 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Puasa Ramadan bukan sekadar ibadah yang berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap keseimbangan psikologis. Di tengah tekanan hidup modern yang serba cepat, menahan lapar, haus, serta dorongan emosi negatif selama berpuasa memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk melakukan penyesuaian dan pemulihan secara alami.

Sejumlah akademisi dari Universitas Indonesia, Universitas Negeri Surabaya, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa puasa berkontribusi dalam menjaga kesehatan mental. Praktik ini dinilai mampu membantu meredakan stres dan kecemasan, sekaligus memperkuat rasa syukur, empati, serta kebahagiaan.

Pakar Psikologi Klinis UI, Dini Rahma Bintari, menjelaskan bahwa puasa melatih individu untuk mengelola emosi dengan lebih baik. “Dengan menahan lapar, haus, serta emosi negatif, puasa mengajarkan seseorang untuk lebih sabar dan tawakal,” ujarnya melalui laman resmi UI. Ia juga menambahkan bahwa aktivitas berbagi seperti sedekah dan zakat selama Ramadan dapat meningkatkan perasaan bermakna karena seseorang merasa turut membantu meringankan beban orang lain.

Dari sisi ilmiah, Dekan Fakultas Psikologi Unesa, Diana Rahmasari, menyampaikan bahwa puasa berpengaruh terhadap kondisi psikologis melalui proses biologis dan psikososial. “Dengan pola makan yang lebih teratur selama puasa, kemampuan berpikir meningkat dan stres lebih terkendali,” katanya, dikutip dari laman resmi Unesa.

Ia menjelaskan bahwa puasa dapat membantu menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol serta meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang berperan dalam regenerasi sel otak dan pengaturan suasana hati. Selain itu, peningkatan hormon dopamin dan oksitosin selama Ramadan turut mendukung munculnya rasa bahagia dan kesejahteraan emosional.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Imran Pambudi, menilai puasa yang dijalankan secara tepat dapat menjadi terapi psikologis yang efektif. Dalam keterangan resmi yang dikutip Antara pada 18 Februari 2026, ia menyatakan, “Puasa yang dilakukan dengan benar membangun harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa.”

Berbagai temuan penelitian turut menguatkan manfaat tersebut. Studi Jandali et al. (2024) menunjukkan bahwa puasa Ramadan berkorelasi dengan peningkatan kepuasan hidup dan kebahagiaan, serta penurunan tingkat stres dan kecemasan. Dengan demikian, puasa tidak hanya berdampak spiritual, tetapi juga menjadi sarana menjaga kesehatan mental secara menyeluruh di tengah tantangan kehidupan modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....