Berburu Takjil: Tradisi Ramadan yang Sarat Sejarah

  • 27 Feb 2026 13:04 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Berburu takjil telah menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Ramadan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kota Bogor. Menjelang waktu berbuka puasa, masyarakat memadati sudut jalan, pasar dadakan, hingga halaman masjid untuk mencari aneka hidangan manis dan gurih. Fenomena ini bukan sekadar aktivitas membeli makanan, tetapi juga tradisi sosial yang tumbuh dari perjalanan sejarah panjang budaya Islam di Nusantara.

Secara etimologis, kata takjil berasal dari bahasa Arab ‘ajjala–yu‘ajjilu yang berarti menyegerakan. Dalam konteks puasa, maknanya merujuk pada anjuran untuk segera berbuka ketika waktu magrib tiba. Dalam hadis riwayat Muhammad disebutkan bahwa umat Islam dianjurkan menyegerakan berbuka puasa. Namun di Indonesia, istilah takjil kemudian mengalami pergeseran makna menjadi makanan atau minuman pembuka puasa itu sendiri.

Tradisi menyediakan hidangan berbuka sebenarnya telah ada sejak masa awal penyebaran Islam. Di berbagai wilayah Timur Tengah, kurma dan air menjadi sajian utama berbuka. Ketika Islam masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13, tradisi tersebut berakulturasi dengan budaya lokal. Muncullah berbagai jenis kudapan khas seperti kolak, bubur sumsum, candil, hingga gorengan yang disesuaikan dengan bahan pangan setempat.

Pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan, masyarakat umumnya menyiapkan hidangan berbuka secara sederhana di rumah. Namun seiring pertumbuhan kota dan perkembangan ekonomi, muncul kebiasaan menjual makanan khusus Ramadan di pasar sore. Fenomena ini semakin berkembang pada era 1980–1990-an ketika kawasan perkotaan mulai ramai dengan pedagang musiman yang menjajakan aneka takjil di tepi jalan.

Memasuki era digital, berburu takjil tidak lagi sekadar transaksi konvensional. Media sosial mempopulerkan istilah “perang takjil” yang menggambarkan tingginya antusiasme masyarakat dalam membeli makanan berbuka, bahkan lintas komunitas dan latar belakang. Selain itu, layanan pesan antar daring turut memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM, menjadikan tradisi ini sebagai penggerak ekonomi musiman yang signifikan.

Meski demikian, esensi berburu takjil tetap berpijak pada nilai kebersamaan dan berbagi. Banyak komunitas dan masjid membagikan takjil gratis sebagai bentuk kepedulian sosial. Tradisi ini memperlihatkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang konsumsi, tetapi juga solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.

Dengan akar sejarah yang panjang dan terus beradaptasi dengan zaman, berburu takjil menjadi cermin dinamika budaya Islam di Indonesia. Ia bukan sekadar kebiasaan tahunan, melainkan warisan tradisi yang menyatukan nilai religius, sosial, dan ekonomi dalam satu momentum Ramadan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....