Stres Menumpuk? Dunia Rayakan Pekan Refleksologi 21–27 September

  • 21 Sep 2026 19:54 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Di tengah tekanan aktivitas sehari-hari, ada terapi sentuhan non-invasif yang dikenal mendorong relaksasi mendalam dan kebugaran, yaitu refleksologi. Terapi kesehatan pelengkap ini berpijak pada teori bahwa titik-titik pada wajah, telinga, tangan, tungkai bawah, dan telapak kaki berkaitan dengan bagian tubuh lainnya.

Terapi tersebut menjadi sorotan dunia lewat Pekan Refleksologi Dunia (World Reflexology Week) yang berlangsung pada Senin, 21 September hingga Minggu, 27 September 2026. Peringatan internasional yang digelar setiap pekan penuh terakhir September ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran publik mengenai manfaat refleksologi.

Setiap tahun, para anggota Association of Reflexologists menggelar kegiatan di berbagai belahan dunia agar masyarakat bisa merasakan langsung manfaat terapi ini. Biasanya, para refleksolog menyediakan sesi percobaan gratis bagi pengunjung.

International Council of Reflexologists (ICR), badan global yang berdiri pada 1990, bersama sejumlah asosiasi nasional lazim mendorong sesi informasi gratis, terapi pengenalan dengan tarif diskon, serta webinar edukasi. Klinik dan pusat kebugaran lokal juga dapat membuka open house atau ceramah komunitas selama pekan peringatan.

Menurut National Today, jumlah pasti praktisi refleksologi di dunia sulit dipastikan, tetapi American Reflexology Certification Board (ARCB), yang berdiri pada 1991, telah mensertifikasi ribuan praktisi di Amerika Serikat saja. Jutaan orang di seluruh dunia juga disebut menjalani perawatan refleksologi setiap tahun.

Akar refleksologi dapat ditelusuri hingga Mesir Kuno, India, dan Tiongkok. Praktik ini kemudian dikenalkan ke dunia Barat oleh Dr. William Fitzgerald, seorang dokter THT, lewat terapi zona pada 1900-an. Pada 1930-an, Eunice Ingham mengembangkan terapi zona itu menjadi refleksologi modern.

Eunice D. Ingham (1889–1974), seorang fisioterapis, dikenal luas sebagai ibu refleksologi modern. Ia menyusun bagan telapak kaki yang memetakan titik refleks tertentu dengan organ dan sistem tubuh, melalui riset dan kerja klinis pada 1930-an hingga 1940-an.

Sesi refleksologi yang baik berlangsung 45 hingga 60 menit dan bekerja pada 10 zona tubuh. Terapi ini cocok untuk semua kalangan, dari bayi baru lahir hingga lansia, dan termasuk terapi yang paling umum digunakan di Denmark dan Norwegia.

Refleksologi memusatkan tekanan pada titik refleks tertentu, terutama di kaki, tangan, dan telinga. Sementara itu, pijat memanipulasi otot dan jaringan lunak untuk meredakan ketegangan dan memperbaiki sirkulasi.

Penelitian tentang efektivitas refleksologi masih berjalan. Sejumlah studi menunjukkan hasil positif untuk pengurangan nyeri, peredaan stres, dan relaksasi, meski uji klinis skala besar masih diperlukan. Refleksologi juga bukan pengganti terapi yang diresepkan.

Masyarakat dapat berpartisipasi dengan membagikan informasi tentang refleksologi di media sosial, berbagi pengalaman pribadi, atau mengunjungi refleksolog untuk menjalani sesi terapi. Pelaku usaha kesehatan dan kebugaran juga dapat menggelar lokakarya kesehatan kerja untuk memperkenalkan teknik refleksologi mandiri kepada karyawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....