Mengenal Burnout, Fenomena Kelelahan yang Kerap Dialami Pekerja dan Mahasiswa
- 11 Jun 2026 18:22 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Di tengah tuntutan pekerjaan, tugas kuliah, serta derasnya arus informasi digital, fenomena burnout semakin banyak dialami oleh pekerja maupun mahasiswa. Kondisi ini bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan kelelahan fisik, mental, dan emosional yang terjadi akibat stres berkepanjangan.
Psikolog Herbert Freudenberger pada tahun 1974 memperkenalkan istilah burnout pertama kalinya untuk menggambarkan kondisi kelelahan ekstrem yang dialami seseorang akibat tekanan pekerjaan yang terus-menerus. Saat ini, burnout tidak hanya terjadi di lingkungan kerja, tetapi juga banyak dialami mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik dan tuntutan sosial.
Pada kalangan pekerja, burnout sering muncul karena beban kerja yang tinggi, target yang menumpuk, kurangnya waktu istirahat, hingga minimnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Sementara itu, mahasiswa rentan mengalami burnout akibat jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, tekanan memperoleh nilai tinggi, serta kekhawatiran mengenai masa depan dan karier.
Gejala burnout dapat dikenali melalui beberapa tanda, seperti mudah merasa lelah, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, mudah marah, hingga menurunnya produktivitas. Dalam kondisi yang lebih serius, burnout dapat memengaruhi kesehatan mental dan memicu kecemasan maupun depresi.
Psikolog menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memperburuk burnout adalah budaya produktivitas berlebihan yang berkembang di masyarakat. Banyak orang merasa harus terus bekerja atau belajar tanpa henti demi mencapai target tertentu. Padahal, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi.
Selain itu, pemicu lain yaitu penggunaan media sosial yang berlebihan . Tidak sedikit individu yang membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain yang terlihat sukses di dunia maya. Perbandingan tersebut sering kali menimbulkan tekanan psikologis yang berujung pada kelelahan mental.
Untuk mencegah burnout, para ahli menyarankan pentingnya mengatur waktu dengan baik, menetapkan prioritas, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat. Aktivitas sederhana seperti berolahraga, melakukan hobi, menjaga pola tidur, dan membatasi penggunaan gawai dapat membantu menjaga kesehatan mental.
mendapatkan dukunagn dari orang dan lingkungan sekitar juga memiliki peran penting. Rekan kerja, teman kuliah, keluarga, maupun institusi pendidikan dan perusahaan diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan suportif sehingga individu tidak merasa harus menghadapi tekanan sendirian.
Burnout merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius, terutama di era modern yang serba cepat dan kompetitif. Dengan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental serta menerapkan pola hidup yang lebih seimbang, pekerja dan mahasiswa dapat menjaga produktivitas tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun psikologis mereka.
Fenomena burnout menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya pekerjaan yang diselesaikan atau prestasi yang diraih. Menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan diri juga merupakan bagian penting dalam mencapai kesuksesan yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....