Makan Pedas ternyata Bisa Memengaruhi Cara Tubuh Merasakan Sakit

  • 14 Sep 2026 21:41 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Makanan pedas ternyata tidak hanya memberikan sensasi panas di lidah. Sebuah penelitian terbaru menemukan adanya kemungkinan hubungan antara konsumsi makanan pedas dan cara seseorang merasakan rasa sakit pada bagian tubuh lainnya.

Mengutip Food & Wine, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Physiology & Behavior menguji hubungan tersebut terhadap 48 orang dewasa. Peneliti dari Chongqing Normal University dan Southwest University di Tiongkok melakukan dua sesi pengujian dengan jarak sekitar satu minggu.

Dalam salah satu sesi, peserta diminta menahan makanan berbahan cabai di dalam mulut selama lima menit. Pada sesi lainnya, peserta menerima makanan tanpa rasa pedas. Setelah itu, tangan mereka diberikan rangsangan panas menggunakan laser dengan tingkat intensitas yang berbeda.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pada rasa sakit dengan intensitas tinggi. Peserta menilai rasa panas tersebut terasa lebih ringan dan tidak terlalu mengganggu setelah mengonsumsi makanan yang mengandung cabai. Namun, efek serupa tidak terlihat ketika peserta mendapatkan rangsangan panas dengan tingkat yang lebih rendah.

Peneliti juga melihat kebiasaan makan peserta. Orang yang mengaku lebih menyukai makanan pedas cenderung memiliki tingkat kepekaan terhadap rasa sakit yang lebih rendah. Meski demikian, temuan tersebut hanya menunjukkan adanya hubungan dan belum membuktikan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan pedas secara langsung membuat seseorang lebih tahan terhadap rasa sakit.

Lantas, mengapa makanan pedas mungkin memengaruhi persepsi terhadap rasa sakit? Salah satu kemungkinan berkaitan dengan capsaicin, senyawa yang memberikan sensasi pedas pada cabai. Penelitian sebelumnya mengaitkan capsaicin dengan pelepasan endorfin, yaitu zat kimia tubuh yang dapat memengaruhi persepsi terhadap rasa sakit.

Kemungkinan lainnya adalah perhatian otak. Ketika seseorang merasakan sensasi terbakar akibat makanan pedas, rangsangan tersebut dapat menyita perhatian otak. Akibatnya, sensasi sakit dari bagian tubuh lain mungkin terasa tidak terlalu dominan. Peneliti juga menyebut kemungkinan adanya proses modulasi rasa sakit dalam sistem saraf.

Namun, hasil penelitian ini tidak berarti makanan pedas dapat digunakan untuk mengatasi sakit kepala, cedera, atau nyeri kronis. Penelitian dilakukan dalam kondisi laboratorium yang terkontrol dan hanya melibatkan 48 orang dewasa muda yang tidak dilaporkan memiliki masalah kesehatan. Karena itu, hasilnya belum dapat diterapkan secara luas pada kondisi nyeri dalam kehidupan sehari-hari.

Peneliti masih membutuhkan studi lanjutan untuk mengetahui apakah makanan pedas memang secara langsung dapat mengubah toleransi terhadap rasa sakit atau efek yang ditemukan hanya bersifat sementara dalam kondisi tertentu.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman manusia terhadap rasa sakit tidak hanya dipengaruhi oleh sumber rasa sakit itu sendiri. Makanan, sensasi tubuh, serta cara otak memproses berbagai rangsangan juga dapat berperan dalam menentukan seberapa kuat suatu rasa sakit dirasakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....