Intermittent Fasting ternyata Pengaruhi Area Otak Pengendali Emosi

  • 22 Jun 2026 15:24 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Intermittent fasting (IF) atau pola makan dengan jeda waktu tertentu tidak hanya berkaitan dengan penurunan berat badan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa metode ini juga dapat memengaruhi aktivitas otak, terutama pada area yang berperan dalam pengendalian kognitif (cognitive control) dan emosi.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Cellular and Infection Microbiology tahun 2023 melalui penelitian berjudul Dynamical Alterations of Brain Function and Gut Microbiome in Weight Loss. Penelitian melibatkan 25 orang dewasa dengan obesitas yang menjalani program pembatasan energi secara intermiten selama dua bulan.

Peneliti menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mengamati aktivitas otak peserta. Hasilnya menunjukkan adanya perubahan aktivitas pada beberapa wilayah otak yang berkaitan dengan pengaturan perilaku makan, emosi, pembelajaran, serta kontrol diri.

Salah satu area yang mengalami perubahan adalah inferior frontal orbital gyrus, bagian dari sirkuit cognitive control. Wilayah ini berperan dalam kemampuan seseorang mengendalikan impuls, mengambil keputusan, dan mengatur perilaku, termasuk saat menghadapi godaan makanan.

Peneliti juga menemukan perubahan aktivitas pada putamen, area otak yang berhubungan dengan emosi dan proses pembelajaran. Selain itu, terdapat perubahan pada anterior cingulate cortex, wilayah yang terlibat dalam pemrosesan sensasi dan pengambilan keputusan.

Menurut penelitian tersebut, perubahan aktivitas di berbagai area otak itu diduga membantu peserta mengatur asupan makanan dengan lebih baik selama program penurunan berat badan. Dengan kata lain, intermittent fasting tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi cara otak merespons rasa lapar, emosi, dan dorongan untuk makan.

Selain perubahan pada otak, penelitian yang sama juga menemukan adanya perubahan komposisi bakteri usus. Temuan ini memperkuat konsep hubungan dua arah antara otak dan sistem pencernaan yang dikenal sebagai brain-gut-microbiome axis. Para peneliti menyebut interaksi antara otak dan mikrobiota usus kemungkinan memainkan peran penting dalam keberhasilan penurunan berat badan.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini dilakukan pada jumlah peserta yang relatif kecil dan dalam jangka waktu terbatas. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami lebih jauh dampak jangka panjang intermittent fasting terhadap fungsi otak dan kesehatan secara keseluruhan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....