Asma pada Perempuan Lebih Berat, Hormon Diduga Berperan

  • 09 Sep 2026 16:13 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Asma ternyata memiliki perbedaan yang cukup mencolok antara laki-laki dan perempuan. Jika pada masa kanak-kanak anak laki-laki lebih banyak mengalami asma, kondisi tersebut berbalik setelah memasuki masa pubertas ketika perempuan justru memiliki risiko lebih tinggi.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Data kesehatan di Amerika Serikat menunjukkan sekitar satu dari sepuluh perempuan dewasa mengalami asma, atau hampir dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Perempuan juga cenderung mengalami serangan asma yang lebih berat sehingga lebih sering membutuhkan penanganan di unit gawat darurat atau menjalani perawatan di rumah sakit.

Para peneliti menduga perubahan hormon perempuan menjadi salah satu faktor penting di balik perbedaan tersebut. Hormon seperti estrogen dan progesteron dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh serta meningkatkan peradangan pada saluran pernapasan yang berperan dalam munculnya gejala asma.

Perubahan hormon juga membuat kondisi asma pada perempuan dapat mengalami naik turun sepanjang kehidupan. Gejalanya pada sebagian perempuan dapat memburuk menjelang menstruasi, selama kehamilan, maupun ketika memasuki masa menopause, meskipun respons setiap orang tidak selalu sama.

Siklus menstruasi menjadi salah satu periode yang cukup diperhatikan para ahli karena perubahan kadar hormon dapat memengaruhi sensitivitas saluran pernapasan. Sejumlah perempuan melaporkan gejala asma semakin berat beberapa hari sebleum menstruasi atau pada awal masa menstruasi.

Kehamilan juga dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap penderita asma. Sebagian perempuan mengalami gejala yang memburuk, terutama pada trimester kedua dan ketiga, sementara sebagian lainnya justru membaik atau tidak mengalami perubahan berarti selama kehamilan.

Selain faktor hormonal, ukuran dan perkembangan paru-paru, faktor genetik, lingkungan, serta gaya hidup turut memengaruhi risiko dan tingkat keparahan asma pada perempuan. Paparan asap, debu, bahan pembersih, dan zat iritan lainnya juga dapat meningkatkan kemungkinan munculnya gangguan pernapasan, terutama pada mereka yang sering terpapar di lingkungan kerja.

Obesitas menjadi faktor lain yang perlu mendapat perhatian karena dapat memperburuk perjalanan penyakit asma, khususnya pada perempuan. Jaringan lemak dapat memengaruhi sistem peradangan dan metabolisme hormon sehingga berpotensi membuat gejala semakin sulit dikendalikan.

Tantangan juga muncul dalam pengobatan karena sebagian perempuan diduga memiliki respons yang berbeda terhadap obat asma tertentu, termasuk kortikosteroid hirup yang selama ini menjadi salah satu terapi utama. Para ilmuwan kini mengembangkan obat biologis dan meneliti potensi obat golongan GLP-1 yang digunakan untuk diabetes dan obesitas sebagai bagian dari pendekatan baru terhadap asma.

Para ahli menilai penelitian mengenai perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan dalam penyakit asma masih perlu diperluas. Perempuan yang mengalami sesak napas atau perubahan gejala pernapasan, termasuk ketika memasuki menopause, disarankan tidak menganggapnya sebagai keluhan biasa dan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan diagnosis serta penanganan yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....