Studi 22 Negara Ungkap Hubungan Persahabatan dengan Kesehatan Mental
- 01 Sep 2026 20:16 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Memiliki hubungan pertemanan yang hangat ternyata bukan hanya membuat kehidupan sosial terasa lebih menyenangkan. Sebuah penelitian global menemukan adanya keterkaitan antara kepuasan seseorang terhadap persahabatan dan hubungan sosial dengan penilaian yang lebih baik terhadap kondisi kesehatan mental maupun fisik.
Studi yang melibatkan 204.907 orang dewasa dari 22 negara tersebut menggunakan data Global Flourishing Study dan dipublikasikan dalam Journal of Mental Health pada 2026. Peneliti utama, Veli Durmuş dari Kütahya Health Sciences University, Turki, mengatakan peserta yang lebih puas dengan hubungan pertemanan dan sosialnya cenderung memberikan penilaian kesehatan yang lebih positif. Temuan ini, menurut Durmuş, menunjukkan pentingnya memasukkan hubungan sosial dalam pembahasan mengenai kesehatan dan kesejahteraan.
Menariknya, penelitian ini tidak mengukur kesehatan sosial berdasarkan jumlah teman yang dimiliki seseorang. Fokusnya adalah seberapa puas seseorang terhadap hubungan yang dijalani. Artinya, banyaknya koneksi di media sosial belum tentu mencerminkan kualitas hubungan. Kehadiran orang yang dapat dipercaya, didengarkan, dan menjadi tempat berbagi justru menjadi bagian yang lebih penting dalam pengalaman sosial seseorang.
Peneliti juga menemukan adanya hubungan antara pengalaman keluarga pada masa kanak-kanak dan kondisi kesehatan ketika dewasa. Peserta yang menggambarkan hubungan dengan ayah dan ibu sebagai sangat baik cenderung memiliki penilaian kesehatan mental dan fisik yang lebih positif. Namun, Durmuş menekankan bahwa hubungan sosial terus berubah sepanjang kehidupan. Persahabatan, pasangan, keluarga, dan lingkungan baru dapat memperkuat atau bahkan mengubah pengaruh pengalaman sosial sebelumnya.
Dalam penelitian tersebut, Indonesia mencatat tingkat kepuasan terhadap persahabatan dan hubungan sosial tertinggi dibandingkan negara-negara lain yang dianalisis. Sementara itu, Jepang berada pada posisi dengan tingkat kepuasan terendah. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas hubungan sosial dapat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan kondisi masyarakat yang berbeda. Studi mencakup negara dengan karakteristik sosial yang beragam, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, Australia, India, Jepang, Brasil, dan Afrika Selatan.
Usia juga menunjukkan pola menarik. Kelompok usia pertengahan 30-an hingga akhir 40-an tercatat memiliki skor kesehatan mental lebih rendah dibandingkan kelompok berusia 18 hingga 34 tahun. Sementara itu, kelompok berusia 65 tahun ke atas justru menunjukkan skor kesehatan mental yang lebih tinggi. Peneliti tidak menyimpulkan penyebab pola tersebut, sehingga temuan ini tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa bertambahnya usia secara otomatis meningkatkan kesehatan mental.
Selain hubungan sosial, penelitian menemukan keterkaitan antara kondisi kesehatan yang dilaporkan peserta dengan sejumlah faktor lain, termasuk status pernikahan, kondisi keuangan yang dirasakan mencukupi, dan identifikasi keagamaan. Namun, seluruh temuan tersebut bersifat korelasi, bukan bukti hubungan sebab-akibat. Data juga berasal dari penilaian peserta terhadap kondisi diri mereka sendiri sehingga perlu dibaca secara hati-hati.
Meski demikian, penelitian ini memberikan pesan sederhana bahwa menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan olahraga, makanan bergizi, tidur, atau pemeriksaan medis. Membangun hubungan sosial yang berkualitas juga layak mendapat perhatian. Berbincang langsung, menjaga persahabatan, meluangkan waktu bersama keluarga, atau sekadar hadir bagi seseorang yang membutuhkan teman mungkin terlihat sederhana, tetapi hubungan yang bermakna dapat menjadi salah satu bagian penting dari kesejahteraan manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....