Nutri-Level dan Tantangan Mengurangi Minuman Manis di Indonesia
- 01 Sep 2026 20:14 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Kebiasaan masyarakat mengonsumsi minuman manis kini mendapat perhatian baru melalui penerapan label Nutri-Level. Penanda berupa huruf A, B, C, dan D pada minuman siap saji dirancang agar konsumen lebih mudah mengenali tingkat kandungan gula, garam, dan lemak jenuh tanpa harus terlebih dahulu membaca tabel nilai gizi yang penuh angka. Kebijakan ini dituangkan pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/301/2026.
Kehadiran label tersebut dinilai relevan dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 47,5 persen penduduk berusia lebih dari tiga tahun mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari. Kementerian Kesehatan menilai pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak penting untuk membantu menekan berbagai faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk obesitas, hipertensi, penyakit kardiovaskular, stroke, dan diabetes tipe 2.
Meski informasi kandungan gula kini lebih mudah dikenali, persoalan berikutnya adalah apakah konsumen akan mengubah pilihannya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian informasi memiliki pengaruh terhadap perhatian pembeli. Riset Erica van Herpen dan Hans C.M. van Trijp dalam jurnal Appetite menemukan bahwa simbol visual dan sistem traffic-light cenderung lebih menarik perhatian dibandingkan tabel gizi yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dibaca. Dengan kata lain, informasi yang sederhana dan mudah dikenali berpeluang lebih besar memengaruhi keputusan saat konsumen berbelanja.
Penelitian Svetlana Bialkova dan kolega pada 2014 juga menunjukkan adanya hubungan antara perhatian konsumen terhadap label dan keputusan memilih produk. Melalui metode eye-tracking, peneliti menemukan bahwa peserta lebih banyak memperhatikan produk yang menggunakan informasi gizi berkode warna. Namun, temuan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa sebuah label mampu mengubah kebiasaan konsumsi dalam jangka panjang.
Kajian Jing Song dan kolega yang diterbitkan di PLOS Medicine pada 2021 memberikan gambaran serupa. Berdasarkan systematic review dan network meta-analysis, label berwarna maupun label peringatan dapat meningkatkan kemungkinan konsumen memilih produk yang lebih sehat. Kendati demikian, sebagian besar penelitian yang dianalisis berlangsung dalam kondisi eksperimental. Karena itu, dampak label terhadap perilaku masyarakat dalam situasi pembelian sehari-hari masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
Persoalan lain muncul ketika pilihan produk dikaitkan dengan selera. Mengurangi konsumsi gula belum tentu membuat seseorang langsung menyukai rasa yang lebih hambar. Tinjauan Katherine M. Appleton dan kolega pada 2018 menunjukkan bukti mengenai perubahan preferensi rasa manis akibat pengurangan paparan gula masih beragam. Sementara itu, Sweet Tooth Trial, uji acak terkontrol terhadap 180 orang dewasa selama enam bulan, menemukan bahwa perubahan paparan makanan manis tidak secara otomatis mengubah tingkat kesukaan peserta terhadap rasa manis.
Artinya, terdapat perbedaan antara mengetahui kandungan gula, memilih produk dengan gula lebih rendah, dan mengubah selera terhadap rasa manis. Ketiganya merupakan proses yang berbeda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri merekomendasikan konsumsi free sugars kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian, dengan pengurangan lebih lanjut hingga di bawah lima persen sebagai pilihan yang lebih baik.
Karena itu, Nutri-Level dapat menjadi alat bantu pada tahap awal ketika konsumen menentukan pilihan. Tantangan berikutnya adalah memastikan apakah informasi tersebut benar-benar mendorong perubahan perilaku secara konsisten. Evaluasi di lapangan diperlukan untuk mengetahui apakah masyarakat semakin memilih minuman dengan kandungan gula lebih rendah, apakah pilihan tersebut bertahan dalam jangka panjang, serta apakah perubahan permintaan konsumen nantinya mendorong produsen melakukan reformulasi produk. Pada akhirnya, keberhasilan Nutri-Level tidak hanya diukur dari seberapa banyak label A hingga D terlihat di kemasan, tetapi dari seberapa jauh informasi tersebut mampu mendorong pilihan konsumsi yang lebih sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....