Mengenal Brain Fog, saat Otak Terasa Lambat dan Sulit Berkonsentrasi

  • 31 Agt 2026 10:59 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor — Pernahkah Anda berjalan menuju suatu ruangan, tetapi sesampainya di sana tiba-tiba lupa tujuan awal? Atau ketika sedang berdiskusi, alur pikiran mendadak kosong hingga kesulitan menemukan kata-kata? Kondisi semacam ini cukup umum dialami dan dikenal sebagai brain fog atau kabut otak.

Mengutip edukasi kesehatan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), brain fog bukan merupakan nama penyakit medis tertentu, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan fungsi kognitif yang bersifat sementara. Kondisi ini dapat ditandai dengan proses berpikir yang terasa lebih lambat, mudah lupa, sulit berkonsentrasi, kebingungan, hingga munculnya kelelahan mental meski tidak melakukan aktivitas fisik berat.

Brain fog kerap dikaitkan dengan penurunan daya ingat pada usia lanjut. Namun, kondisi tersebut juga dapat dialami oleh kelompok usia produktif, termasuk mahasiswa. Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan munculnya brain fog adalah kurang tidur dalam jangka waktu tertentu, karena tidur yang cukup berperan penting dalam membantu otak memulihkan fungsi dan mengonsolidasikan ingatan.

Selain gangguan tidur, paparan informasi yang berlebihan melalui perangkat digital juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mempertahankan fokus. Kebiasaan berpindah-pindah tugas, mengonsumsi banyak konten media sosial, serta melakukan multitasking secara berlebihan dapat membuat seseorang lebih mudah kehilangan konsentrasi dan merasa pikirannya penuh.

Faktor fisik seperti kurangnya asupan cairan dan pola makan yang tidak seimbang juga dapat memperburuk rasa lelah serta kesulitan berkonsentrasi. Dehidrasi dapat memengaruhi fungsi tubuh, termasuk kemampuan kognitif, sementara pola konsumsi makanan dan minuman yang kurang teratur dapat menyebabkan perubahan energi yang membuat tubuh dan pikiran terasa lebih mudah lelah.

Kabar baiknya, brain fog pada umumnya bukan kondisi yang menetap dan dapat membaik ketika faktor pemicunya ditangani. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain memperbaiki kualitas tidur, mencukupi kebutuhan cairan, menjaga pola makan seimbang, serta memberikan waktu istirahat bagi tubuh dan pikiran.

Mengurangi kebiasaan multitasking dengan berfokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu juga dapat membantu menjaga konsentrasi. Selain itu, membatasi penggunaan gawai, terutama menjelang waktu tidur, dapat menjadi bagian dari pola hidup yang mendukung kesehatan otak dan membantu mengembalikan kejernihan berpikir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....