Sains di Balik Penyebab Seseorang Mudah Mengingat atau Melupakan Mimpi
- 27 Agt 2026 06:46 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Fenomena melupakan alur mimpi setelah terbangun merupakan hal yang kerap dialami banyak orang. Meskipun sebagian individu mampu mengingat alur mimpinya secara detail hingga bertahun-tahun, sebagian lainnya justru merasa hampir tidak pernah bermimpi sama sekali saat beristirahat di malam hari.
Secara biologis, peristiwa bermimpi paling sering terjadi pada fase tidur dengan pergerakan mata cepat atau rapid eye movement (REM). Peneliti mimpi dari Harvard Medical School, Deidre Barrett, menjelaskan bahwa area otak hippokampus yang bertugas mengunci ingatan jangka panjang serta area preflontal korteks yang mengatur logika cenderung dinonaktifkan selama fase REM berlangsung.
Kondisi tersebut membuat memori tentang mimpi hanya tersimpan sementara di ingatan jangka pendek dalam hitungan detik. Seseorang baru bisa mengingat peristiwa tersebut apabila ia terbangun langsung di tengah atau akhir fase REM, sehingga potongan ccerita di alam bawah sadar sempat diproses oleh sistem memori jangka panjang sebelum memudar.
Secara psikolohis dan neurosains, otak bahkan secara alami menyeleksi atau menyamarkan mimpi agar memori alam bawah sadar yang terlalu intens tidak bercampur dengan ingatan kehidupan nyata. Perubahan zat kimia, hormon, dan gelombang otak juga memegang peranan penting. Peneliti menemukan bahwa tingginya aktivitas gelombang theta serta aktifnya area temporoparietal junctionsaat terbangun terbukti mempermudah seseorang untuk merangkai dan mengingat kembali ingataan mimpinya.
Pola tidur, tingkat stres, dan kepekaan saraf turut menentukan kemampuan mengingat ini. Orang yang sering terbangun singkat di tengah malam, peka terhadap suara bising, mengalami gangguan tidur, atau terbangun mendadak akibat alarm memiliki peluang lebih besar untuk mengingat mimpi. Sebaliknya, kurang tidur kronis justru memotong durassi fasae REM sehingga memori mimpi semakin sulit didapatkan.
Karakter kepribadian serta kebiasaan mental juga mempengaruhi daya ingat mimpi. Individu yang terbiasa melamun, imajinatif, introspektif, memiliki sensitivitas emosional tinggi, atau rutin melakukan latihan meditasi dan mencatat mimpi umumnya memiliki daya ingat mimpi yang jauh lebih kuat.
Bagi masyarakat yang merasa tidak pernah bermimpi sama sekali, ahli neurologi Dr. Isabelle Arnulf menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti otak tidak beraktivitas. Penelitian neurosains menunjukkan bahwa orang yang mengaku tidak bermimpi tetap menunjukkan respons fisik dan percakapan kompleks saat fase tidur, namun otaknya hanya gagal menyimpan rekaman peristiwa tersebut ke dalam memori saat terbangun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....