Badan Sudah Lelah tapi Susah Tidur? Bisa Jadi Otak Terjebak Overthinking
- 22 Jul 2026 12:51 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Pernah merasa tubuh sudah sangat lelah setelah beraktivitas seharian, tetapi mata tetap sulit terpejam saat malam tiba? Kondisi ini ternyata cukup umum dialami banyak orang. Salah satu penyebabnya adalah stres akibat menghadapi ketidakpastian hidup yang membuat otak tetap aktif, meskipun tubuh sebenarnya sudah siap untuk beristirahat.
Ketidakpastian mengenai pekerjaan, kondisi keuangan, kesehatan, maupun masa depan dapat memicu munculnya berbagai pikiran negatif. Rasa takut gagal, khawatir harapan tidak tercapai, atau terus memikirkan kemungkinan terburuk membuat otak berada dalam kondisi siaga. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengalami overthinking menjelang waktu tidur.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa stres mengaktifkan sistem respons tubuh terhadap ancaman, termasuk meningkatkan aktivitas hormon kortisol. Pada kondisi normal, kadar kortisol akan menurun pada malam hari agar tubuh lebih mudah memasuki fase tidur. Namun, ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan atau terus memikirkan berbagai ketidakpastian, kadar hormon ini dapat tetap tinggi sehingga membuat otak sulit memasuki kondisi rileks.
Temuan serupa dipublikasikan dalam Sleep Medicine Reviews yang menyebutkan bahwa cognitive arousal, yaitu kondisi ketika pikiran tetap aktif sebelum tidur, merupakan salah satu faktor utama penyebab insomnia. Seseorang mungkin merasa sangat lelah secara fisik, tetapi pikirannya terus memproses berbagai kekhawatiran, menyusun berbagai kemungkinan, atau mengulang kejadian yang telah berlalu. Aktivitas mental inilah yang membuat proses untuk tertidur menjadi lebih lama.
Para peneliti menjelaskan bahwa otak tidak selalu mampu membedakan ancaman nyata dengan ancaman yang hanya dibayangkan. Ketika seseorang terus memikirkan skenario buruk, tubuh dapat memberikan respons seolah-olah ancaman tersebut benar-benar sedang terjadi. Akibatnya, detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan tubuh tetap berada dalam kondisi waspada sehingga kualitas tidur pun menurun.
Kurang tidur yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat memperburuk kondisi psikologis. Menurut American Academy of Sleep Medicine (AASM), kurang tidur dapat meningkatkan risiko gangguan konsentrasi, perubahan suasana hati, menurunnya daya tahan tubuh, hingga memperbesar kemungkinan mengalami gangguan kecemasan. Di sisi lain, kecemasan yang tidak terkendali juga dapat semakin mengganggu kualitas tidur, sehingga membentuk siklus yang sulit diputus.
Untuk membantu tubuh lebih mudah beristirahat, para ahli menyarankan menjaga kebiasaan tidur yang sehat, seperti mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, melakukan latihan relaksasi atau pernapasan, menuliskan hal-hal yang sedang dipikirkan, serta membatasi konsumsi kafein pada sore dan malam hari. Jika kesulitan tidur berlangsung lebih dari tiga bulan atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Pada akhirnya, rasa lelah tidak selalu berasal dari aktivitas fisik. Pikiran yang terus dipenuhi ketidakpastian dan kekhawatiran juga dapat menguras energi tanpa disadari. Karena itu, mengelola stres dan memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat menjadi langkah penting agar tubuh memperoleh tidur yang berkualitas dan kesehatan tetap terjaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....