Sering Bilang “Nanti”? Kenali Penyebab Kebiasaan Menunda

  • 25 Agt 2026 20:11 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Menunda pekerjaan menjadi kebiasaan yang cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya saat mengerjakan tugas sekolah atau pekerjaan kantor, tetapi juga ketika harus menyelesaikan hal-hal sederhana di rumah. Saat ada pekerjaan yang harus segera dilakukan, kita terkadang justru memilih melakukan sesuatu yang terasa lebih menyenangkan, seperti membuka media sosial, menonton video, mengobrol, atau sekadar rebahan. Awalnya mungkin hanya ingin beristirahat sebentar, tetapi tanpa disadari waktu terus berjalan dan pekerjaan masih belum tersentuh.

Salah satu penyebabnya adalah pekerjaan yang terasa sulit atau membosankan. Ketika melihat tugas yang panjang dan membutuhkan banyak tenaga serta konsentrasi, kita cenderung mencari kegiatan lain yang lebih ringan. Dari sinilah muncul keinginan untuk menunda. Kita merasa bisa mengerjakannya nanti ketika sudah lebih siap, padahal semakin lama ditinggalkan, pekerjaan tersebut justru terasa semakin berat.

Rasa takut melakukan kesalahan juga bisa menjadi alasan seseorang menunda. Ada orang yang ingin hasil pekerjaannya terlihat sempurna sehingga terlalu lama memikirkan bagaimana hasil akhirnya nanti. Pertanyaan seperti, “Bagaimana kalau hasilnya tidak bagus?” atau “Bagaimana kalau saya gagal?” akhirnya membuat langkah pertama terasa sulit. Daripada menghadapi kemungkinan kecewa, pekerjaan justru dibiarkan begitu saja.

Hal lain yang sering membuat kita terlena adalah perasaan masih memiliki banyak waktu. Ketika batas pengumpulan tugas masih beberapa hari lagi, misalnya, kita merasa tidak perlu terburu-buru. Pekerjaan yang seharusnya bisa dimulai hari ini akhirnya digeser ke besok. Masalahnya, besok pun sering kali berubah menjadi lusa. Tiba-tiba tenggat sudah dekat dan pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu singkat dengan tekanan yang lebih besar.

Kebiasaan menunda juga semakin mudah terjadi karena banyaknya gangguan di sekitar kita. Ponsel dan media sosial, misalnya, menawarkan hiburan yang bisa dinikmati kapan saja. Niat awalnya mungkin hanya membuka media sosial selama lima menit, tetapi tanpa terasa waktu sudah berlalu jauh lebih lama. Konsentrasi pun terpecah dan pekerjaan yang seharusnya selesai menjadi kembali tertunda.

Dampaknya bukan hanya pekerjaan yang terlambat. Kebiasaan menunda juga bisa menimbulkan rasa cemas, bersalah, bahkan membuat pikiran sulit tenang karena terus teringat pada tugas yang belum selesai. Dalam keadaan tertentu, seseorang terpaksa bekerja sampai larut malam untuk mengejar tenggat waktu. Karena dikerjakan terburu-buru, hasilnya pun belum tentu sesuai dengan yang diharapkan.

Karena itu, menunda pekerjaan sebenarnya tidak selalu berarti seseorang malas. Ada banyak hal yang bisa menjadi pemicunya, mulai dari rasa bosan, takut gagal, keinginan untuk mendapatkan hasil sempurna, hingga godaan dari berbagai aktivitas lain. Kebiasaan ini bisa mulai dikurangi dengan cara sederhana, misalnya mengerjakan tugas sedikit demi sedikit tanpa menunggu munculnya motivasi.

Menentukan waktu khusus untuk bekerja, menjauhkan ponsel untuk sementara, atau membagi pekerjaan besar menjadi beberapa bagian kecil juga dapat membantu. Tidak perlu langsung menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Yang terpenting adalah berani memulai, karena sering kali pekerjaan yang awalnya terasa berat menjadi lebih mudah setelah kita benar-benar mengerjakannya. Melawan kebiasaan menunda bukan berarti harus selalu produktif setiap saat, tetapi belajar untuk tidak terus-menerus menunggu waktu yang dianggap sempurna untuk mulai bergerak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....