Kenapa Nyamuk Tetap Banyak saat Musim Kemarau? Ini Penjelasannya
- 21 Agt 2026 11:34 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Indonesia tengah memasuki musim kemarau. Namun, berkurangnya hujan ternyata tidak otomatis membuat nyamuk menghilang. Di sejumlah lingkungan, masyarakat masih merasakan keberadaan nyamuk yang cukup mengganggu. Kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui kemampuan biologis nyamuk, terutama Aedes aegypti, yang dikenal sebagai salah satu vektor virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Salah satu faktor yang membuat nyamuk tetap bertahan adalah kemampuan telurnya menghadapi kondisi kering. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam kondisi sangat kering selama berbulan-bulan. Ketika kembali bersentuhan dengan air, telur tersebut dapat melanjutkan perkembangannya hingga menetas. Karena itu, berkurangnya hujan tidak serta-merta menghentikan siklus hidup nyamuk. (who.int)
Kemampuan telur bertahan dalam kondisi kering juga telah dibuktikan melalui penelitian. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Vector Ecology pada November 2015 menguji kemampuan telur Aedes aegypti bertahan dalam beberapa kondisi kekeringan hingga 367 hari. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kelangsungan hidup telur masih berada di atas 88 persen hingga hari ke-56. Bahkan setelah satu tahun, sekitar 2–15 persen telur yang diuji masih tercatat hidup. Temuan ini memperlihatkan bahwa telur nyamuk tidak langsung mati hanya karena sumber air mengering.
Penelitian lain yang diterbitkan PLOS Biology pada 2023 turut menjelaskan mekanisme di balik kemampuan tersebut. Ketika menghadapi kekeringan, embrio Aedes aegypti mengalami perubahan metabolisme, termasuk dalam penggunaan lipid sebagai sumber energi. Penyesuaian tersebut membantu embrio mempertahankan kondisi tubuh ketika kehilangan air sehingga telur dapat bertahan sampai kembali mendapatkan lingkungan yang sesuai untuk berkembang.
Kemarau juga tidak berarti seluruh lingkungan benar-benar bebas dari air. Ember, bak mandi, vas bunga, tatakan pot, talang, tempat penampungan air hingga berbagai wadah bekas masih dapat menyimpan air dalam jumlah kecil. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa nyamuk Aedes dapat meletakkan telur pada dinding bagian dalam wadah berisi air. Telur tersebut dapat menempel pada permukaan wadah dan bertahan ketika air di dalamnya mengering.
Suhu lingkungan juga menjadi faktor yang memengaruhi perkembangan nyamuk. Dalam kondisi yang sesuai, perkembangan Aedes dari fase larva menuju nyamuk dewasa dapat berlangsung lebih cepat ketika suhu meningkat dalam rentang tertentu. Karena itu, keberadaan sedikit air yang tertinggal di sekitar rumah tetap berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan. Meski demikian, keluhan masyarakat mengenai nyamuk yang terasa lebih banyak selama kemarau belum dapat dijadikan bukti bahwa populasi nyamuk di seluruh Indonesia sedang mengalami peningkatan.
Untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk, masyarakat tetap perlu melakukan pemberantasan sarang nyamuk meski memasuki musim kemarau. WHO menganjurkan wadah penampungan air ditutup dan wadah yang tidak diperlukan segera dikosongkan. Wadah yang masih digunakan juga perlu dikuras, dibersihkan dan digosok secara rutin, setidaknya satu kali dalam seminggu, untuk membantu menghilangkan telur nyamuk yang menempel. Langkah sederhana tersebut penting untuk mengurangi potensi perkembangbiakan Aedes aegypti di lingkungan rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....