3 Cara Kurangi Kebiasaan Terlalu Sering Bilang "Maaf"
- 14 Agt 2026 10:55 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Pernahkah Anda mengucapkan "maaf" meski sebenarnya tidak melakukan kesalahan? Misalnya saat ingin meminta bantuan, terlambat membalas pesan, atau bahkan ketika seseorang justru lebih dulu menabrak Anda.
Mengucapkan maaf memang penting ketika kita melakukan kesalahan. Namun, jika kata tersebut keluar hampir secara otomatis dalam berbagai situasi, kebiasaan itu justru bisa menunjukkan bahwa seseorang terlalu sering menyalahkan dirinya sendiri.
Psikolog Mark Travers, Ph.D., dalam artikel di Psychology Today menyebut kebiasaan terlalu sering meminta maaf tidak selalu berkaitan dengan sopan santun. Dalam beberapa kondisi, kebiasaan tersebut bisa muncul karena seseorang khawatir dianggap merepotkan, menyusahkan, atau membuat orang lain tidak nyaman.
Lalu, bagaimana cara menguranginya? Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kebiasaan tersebut.
Alihkan ucapan permintaan maaf menjadi ungkapan apresiasi
Daripada mengatakan, "Maaf sudah membuat kamu menunggu," seseorang bisa mengatakan, "Terima kasih sudah menunggu." Begitu juga ketika selesai bercerita kepada teman, ucapan "Terima kasih sudah mendengarkan" bisa digunakan daripada terus meminta maaf karena merasa terlalu banyak bercerita.
Menurut Travers, perubahan kecil tersebut membuat perhatian tidak lagi tertuju pada kesalahan atau kekurangan diri, tetapi pada kebaikan orang lain. Penelitian yang dikutip dalam artikelnya juga menemukan bahwa ungkapan terima kasih dapat membuat hubungan terasa lebih dekat.
Berhenti sejenak sebelum mengatakan "maaf"
Tanyakan kepada diri sendiri apakah memang ada kesalahan yang perlu diperbaiki. Sebab, tidak semua suasana canggung, balasan pesan yang singkat, atau ekspresi seseorang berarti kita telah melakukan sesuatu yang salah.
Dengan memberi jeda beberapa detik, seseorang dapat membedakan antara kesalahan yang memang perlu disampaikan dengan rasa tidak nyaman yang sebenarnya tidak membutuhkan permintaan maaf.
Ubah permintaan maaf menjadi permintaan yang jelas
Misalnya, ketika hendak meminta bantuan, tidak perlu selalu diawali dengan kalimat "Maaf mengganggu". Anda bisa langsung menyampaikan kebutuhan dengan sopan, seperti, "Boleh saya minta bantuan?" Cara ini membuat komunikasi terasa lebih lugas dan membantu seseorang tidak terus-menerus merasa bersalah ketika membutuhkan bantuan orang lain.
Menurut Psychology Today, bahasa yang terlalu banyak diberi penjelasan atau pengantar dapat membuat seseorang terdengar kurang yakin. Sebaliknya, menyampaikan maksud secara langsung dapat membuat komunikasi terasa lebih jelas dan percaya diri.
Meski demikian, bukan berarti seseorang harus berhenti meminta maaf. Permintaan maaf tetap penting ketika kita benar-benar melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain. Yang perlu dikurangi adalah kebiasaan meminta maaf hanya karena merasa keberadaan, kebutuhan, atau pendapat kita mungkin merepotkan orang lain.
Pada akhirnya, belajar mengatakan "terima kasih", memberi jeda sebelum meminta maaf, dan menyampaikan kebutuhan secara langsung dapat membantu seseorang berkomunikasi dengan lebih tenang. Kebiasaan kecil tersebut juga bisa menjadi langkah untuk lebih menghargai diri sendiri tanpa mengurangi kepedulian terhadap orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....