Kebiasaan “Ga Enakan” ternyata Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental dan Fisik
- 12 Agt 2026 13:51 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Terbiasa mengatakan “iya” meski sebenarnya ingin menolak, sulit mengungkapkan perasaan, atau terlalu takut mengecewakan orang lain mungkin terlihat sebagai sikap baik. Namun, jika dilakukan terus-menerus hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan masalah kesehatan mental dan fisik.
Dalam penelitian psikologi, perilaku semacam ini memiliki kaitan dengan konsep self-silencing, yaitu kecenderungan menekan pikiran, perasaan, atau kebutuhan pribadi demi mempertahankan hubungan dan mendapatkan penerimaan dari orang lain. Tinjauan yang diterbitkan dalam International Journal of Social Psychiatry menemukan bahwa self-silencing berhubungan dengan berbagai aspek kesehatan dan kesejahteraan, termasuk masalah psikologis seperti depresi.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi emosional. Studi terhadap perempuan usia paruh baya yang diterbitkan di Psychosomatic Medicine menemukan bahwa tingkat self-silencing yang lebih tinggi berhubungan dengan kemungkinan adanya plak pada pembuluh darah karotis, salah satu indikator yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.
Para peneliti menemukan hubungan tersebut tetap terlihat setelah memperhitungkan sejumlah faktor risiko penyakit kardiovaskular, depresi, dan perilaku kesehatan. Meski demikian, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga hasilnya tidak dapat diartikan bahwa kebiasaan “ga enakan” secara langsung menyebabkan penyakit jantung atau penyumbatan pembuluh darah.
Kebiasaan terus memendam perasaan juga dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami tekanan psikologis. Penelitian kualitatif pada perempuan muda menunjukkan bahwa self-silencing dapat berkaitan dengan dampak terhadap kesehatan mental dan perilaku kesehatan, termasuk munculnya perenungan atau rumination setelah seseorang memilih untuk tidak menyuarakan dirinya.
Oleh karena itu, mengatakan “tidak” atau menyampaikan kebutuhan pribadi tidak selalu berarti egois. Menetapkan batasan secara sehat justru dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri, terutama ketika kebiasaan menyenangkan orang lain sudah membuat seseorang mengabaikan kebutuhan, emosi, atau kondisi tubuhnya sendiri.
Jadi, sesekali membantu orang lain tentu bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa tidak enak membuat seseorang terus memaksakan diri, sulit mengungkapkan ketidaknyamanan, atau selalu menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri karena takut ditolak atau mengecewakan orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....