Gula dan Lemak Berlebih Picu Kecanduan pada Otak Manusia
- 06 Agt 2026 15:27 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Makanan yang kaya akan gula dan lemak kini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Di balik cita rasanya yang menggugah selera, para ahli mengingatkan bahwa jenis makanan tersebut dapat memengaruhi cara kerja otak dan mendorong seseorang untuk terus mengonsumsinya.
Dilansir darinationalgeographic.com Penelitian menunjukkan kecanduan makanan bukan lagi sekadar anggapan, melainkan telah menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Kondisi ini bahkan dialami oleh sebagian orang dewasa maupun anak-anak karena semakin banyaknya produk pangan olahan yang dirancang agar sulit ditolak.
Saat seseorang mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, otak akan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berperan dalam membentuk kebiasaan dan mendorong seseorang mengulangi suatu perilaku. Semakin besar pelepasan dopamin, semakin kuat pula dorongan untuk kembali menikmati makanan yang sama.
Proses tersebut tidak hanya dipicu oleh indera perasa di mulut, tetapi juga melibatkan sistem pencernaan yang mengirimkan sinyal ke otak. Lemak dan gula yang terdeteksi di saluran cerna akan merangsang bagian otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan sehingga keinginan untuk makan semakin meningkat.
Para peneliti mengungkapkan bahwa makanan olahan modern dibuat dengan kombinasi bahan yang mampu memberikan sensasi rasa, tekstur, dan aroma yang sangat menarik. Berbagai bahan tambahan juga digunakan agar produk memiliki daya tarik lebih tinggi sekaligus memperpanjang masa simpan.
Berbeda dengan makanan rumahan yang menggunakan bahan alami, makanan ultraolahan umumnya diproduksi melalui proses industri dengan memanfaatkan berbagai zat hasil ekstraksi. Kondisi tersebut membuat makanan lebih cepat dicerna sehingga respons dopamin di otak muncul lebih cepat dibandingkan makanan alami.
Para ahli menilai peningkatan konsumsi makanan ultraolahan dalam beberapa dekade terakhir turut berkontribusi terhadap bertambahnya kasus obesitas, diabetes, dan berbagai penyakit kronis lainnya. Kemudahan memperoleh produk tersebut serta promosi yang masif semakin memperkuat kebiasaan masyarakat untuk terus mengonsumsinya.
Selain faktor biologis, lingkungan dan kondisi psikologis juga memiliki pengaruh besar terhadap munculnya kecanduan makanan. Iklan, keberadaan restoran cepat saji, hingga kebiasaan mengonsumsi camilan saat stres dapat menjadi pemicu seseorang memilih makanan tinggi gula dan lemak meski memahami risikonya.
Meski demikian, para ilmuwan masih terus mempelajari mekanisme pasti yang membuat makanan tertentu memiliki efek adiktif lebih kuat dibandingkan makanan lainnya. berbagai penelitian terus dilakukan untuk mengetahui kombinasi zat gizi yang paling berpengaruh terhadap sistem penghargaan di dalam otak.
Para pakar menilai upaya mengurangi kecanduan makanan tidak cukup hanya mengandalkan kemauan individu, tetapi juga memerlukan dukungan lingkungan yang lebih sehat. Masyarakat dianjurkan mengenali pemicu kebiasaan makan berlebihan, memperbanyak konsumsi makanan segar, serta membatasi makanan ultraolahan agar kesehatan tubuh dna fungsi otak tetap terjaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....