Screen Time sebelum Usia 2 Tahun Bisa Ganggu Perkembangan Otak Bayi

  • 22 Jul 2026 12:48 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Paparan layar atau screen time pada bayi berusia di bawah dua tahun masih menjadi perhatian para pakar kesehatan anak. Masa dua tahun pertama kehidupan dikenal sebagai periode emas perkembangan otak karena pada fase ini terjadi pembentukan jutaan koneksi antarsel saraf yang berperan penting dalam kemampuan belajar, berbahasa, mengelola emosi, dan bersosialisasi.

Para ahli menegaskan bahwa perkembangan otak bayi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi juga oleh kualitas interaksi yang diterima setiap hari. Mengajak bayi berbicara, membacakan buku, bermain, bernyanyi, hingga melakukan kontak mata merupakan bentuk stimulasi yang membantu membangun kemampuan kognitif dan emosional anak sejak dini.

Sebaliknya, penggunaan gawai atau layar secara berlebihan dapat mengurangi kesempatan bayi untuk memperoleh stimulasi tersebut. Meski layar dapat dimanfaatkan dalam kondisi tertentu, seperti panggilan video dengan anggota keluarga, penggunaannya tidak boleh menggantikan interaksi langsung antara orang tua dan anak yang menjadi fondasi utama perkembangan otak.

Hal itu sejalan dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) yang menyarankan agar anak berusia di bawah 18 bulan tidak diberikan paparan media digital, kecuali untuk video call. Sementara itu, anak usia 18 hingga 24 bulan sebaiknya hanya diperkenalkan pada konten digital berkualitas dengan pendampingan aktif dari orang tua agar manfaatnya lebih optimal.

Temuan tersebut juga didukung penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics pada 2023. Studi tersebut menunjukkan bahwa anak yang memiliki durasi screen time lebih lama pada usia satu tahun cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami keterlambatan perkembangan, terutama pada kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah ketika memasuki usia dua hingga empat tahun.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa klaim mengenai screen time yang menyebabkan "kerusakan otak permanen" belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa paparan layar berlebihan lebih berkaitan dengan meningkatnya risiko keterlambatan perkembangan apabila menggantikan aktivitas penting seperti bermain, berinteraksi, dan berkomunikasi secara langsung dengan orang tua atau pengasuh.

Oleh karena itu, orang tua dianjurkan untuk memanfaatkan sebanyak mungkin waktu bersama anak melalui aktivitas sederhana seperti mengobrol, membacakan cerita, bermain, atau bernyanyi. Aktivitas tersebut tidak hanya memperkuat ikatan emosional, tetapi juga membantu membangun fondasi perkembangan bahasa, kemampuan berpikir, perhatian, dan kesehatan mental anak di masa mendatang.

Para ahli mengingatkan bahwa masa awal kehidupan merupakan periode yang tidak dapat diulang. Oleh sebab itu, membatasi penggunaan layar dan menggantinya dengan interaksi langsung menjadi salah satu langkah sederhana namun penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....