Mencegah Heat Stroke, Ancaman Penyakit Paling Berbahaya di Musim Panas

  • 16 Jul 2026 15:06 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Selama musim panas, lonjakan suhu ekstrem membawa risiki heat stroke atau hipertermia, yaitu kondisi darurat medis ketika tubuh menyerap panass berlebih hingga gagal mendinginkan diri. Gangguan fatal ini ditandai dengan lonjakan suhu tubuh yang cepat di atas 40 derajat Celsius, yang dapat menyebabkan kerusakan organ serius hingga kematian jika tidak ditangani dengan segera.

Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak dapat melepaskan panas secara alami melalui penguapan keringat akibat paparan cuaca terik yang berlebihan. Akibatnya, jantung haruss bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke kulit, yang dapat meningkatkan risiko memperburuk penyakit bawaan serta memicu stroke atau serangan jantung mendadak.

Masyarakat harus memahami perbedaan antara kondisi darurat ini dengan heat exhaustion yang ditandai dengan kulit pucat serta keringat berlebih. Pada fase heat stroke, penderita jutsru akan berhenti berkeringat, mengalami kebingungan mental, bicara meracau, hingga akhirnya kehilangan kesadaran secara total.

Kelompok yang paling rentan terkena dampak fatal ini adalah lansia, anak-anak, ibu hamil, serta individu yang rutin mengonsumsi obat-obatan pemicu dehidrasi. Selain itu, risiko serangan akan meningkat bagi orang dengan obesitas serta mereka yang nekat memakai pakaian tebal dan berwarna gelap di bawah terik matahari.

Langkah pencegahan utama yang bisa dilakukan adalah dengan rutin meminum air putih secara teratur sepanjang hari meskipun sedang tidak merasa haus. Hindari pula beraktivitas di luar rumah pada jam-jam terpanas antara pukul 11 siang hingga 5 sore, serta pastikan kondisi rumah tetap sejuk menggunakan kipas angin atau pendingin ruangan.

Jika menemukan seseorang mengalami serangan ini, segara hubungi ambulans dan pindahkan korban ke tempat yang teduh sebagai langkah pertolongan pertama. Dinginkan tubuhnya dengan menyemprotkan air atau menempelkan kompres es di aera pipi, telapak tangan, serta telapak kaki, dan jangan pernah memberikan obat seperti aspirin atau paracetamol karena berbahaya.

Khusus untuk menjaga balita, orang tua diimbau memberikan ekstra ASI atau susu formula bagi bayi di bawah enam bulan dan dilarang keras meninggalkan anak di dalam mobil yang terparkir. Kesadaran masyarakat untuk tetap memantau kondisi keluarga yang berisiko serta mengenali gejala awal hipertermia ini akan menjadi kunci utama keselamatan jiwa. (Kamilia Atiqah Zahra - UNPAK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....